MANADO, BINKARI– Kabar duka menyelimuti jajaran Polresta Manado. Aipda Veky Natari, anggota Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Polresta Manado, telah berpulang. Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, rekan-rekan seprofesi, serta jajaran kepolisian yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang tetap berdiri menjalankan tugas di tengah berbagai tantangan di lapangan.
Yang membuat kisah kepergian Aipda Veky terasa begitu menyentuh, adalah kenyataan bahwa sehari sebelum mengembuskan napas terakhir, dirinya masih aktif menjalankan tugas kepolisian bersama Tim URC Polresta Manado.
Tidak ada yang menyangka bahwa tugas tersebut akan menjadi salah satu pengabdian terakhirnya sebagai anggota Polri.
Dalam pelaksanaan tugas itu, Aipda Veky bersama rekan-rekan satu tim bergerak melakukan penindakan terhadap kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Upaya tersebut membuahkan hasil dengan berhasil diamankannya pelaku yang diduga terlibat dalam aksi pencurian kendaraan bermotor.
Bagi seorang anggota kepolisian, tugas di lapangan bukan sekadar rutinitas. Ada risiko yang harus dihadapi, ada masyarakat yang harus dilindungi, serta ada tanggung jawab yang harus dituntaskan.
Dan Aipda Veky memilih tetap menjalankan tanggung jawab tersebut hingga penghujung pengabdiannya.
Sehari sebelum meninggal dunia, ia masih berada di lapangan. Masih bergerak bersama tim. Masih menjalankan tugas. Bahkan masih ikut dalam keberhasilan mengungkap dan menangkap pelaku curanmor.
Kini, sosok yang sehari sebelumnya masih mengenakan atribut tugas dan menjalankan kewajibannya itu telah tiada.
Kepergian Aipda Veky bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga. Rekan-rekan seperjuangan di Tim URC Polresta Manado juga harus menerima kenyataan bahwa salah satu anggota yang selama ini berada bersama mereka dalam berbagai tugas telah pergi untuk selamanya.
Bagi rekan-rekannya, kenangan tentang Aipda Veky tidak berhenti pada seragam yang dikenakan atau jabatan yang diembannya. Ia akan dikenang melalui kebersamaan, kerja keras, serta pengabdian yang ditunjukkannya ketika menjalankan tugas.
Tugas terakhirnya bersama Tim URC menjadi bagian yang tak mudah dilupakan.
Di saat banyak orang memilih menikmati waktu bersama keluarga, seorang anggota kepolisian tetap dituntut siap ketika masyarakat membutuhkan. Tidak mengenal waktu, situasi maupun risiko. Pengabdian seperti itulah yang melekat dalam perjalanan tugas Aipda Veky hingga akhir hayatnya.
Kepergiannya sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik seragam kepolisian terdapat manusia yang juga memiliki keluarga, orang-orang yang mencintai, serta rekan-rekan yang akan merasakan kehilangan.
Hari ini, jajaran Polresta Manado tidak hanya kehilangan seorang anggota. Keluarga kehilangan sosok yang dicintai. Rekan seperjuangan kehilangan sahabat di lapangan. Dan masyarakat kehilangan salah satu Bhayangkara yang selama hidupnya memilih mengabdikan diri melalui tugas kepolisian.
Pengabdian terakhir Aipda Veky menjadi cerita yang akan terus dikenang: sehari sebelum berpulang, ia masih menjalankan tugas dan membantu mengamankan pelaku curanmor.
Sebuah pengabdian yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang, tetapi memiliki makna besar bagi mereka yang memahami beratnya tanggung jawab seorang anggota Polri di lapangan.
Kini tugasnya telah selesai,Seragamnya mungkin telah dilepas, tetapi jejak pengabdiannya akan tetap tinggal dalam ingatan keluarga dan rekan-rekan seperjuangan.
Selamat jalan, Aipda Veky Natari.
Terima kasih atas pengabdian dan dedikasi yang telah diberikan.
Pengabdianmu berakhir, tetapi kenangan tentangmu tidak akan ikut pergi.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan, serta seluruh amal kebaikan dan pengabdian almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.
Selamat jalan, Bhayangkara. Engkau telah menjalankan tugasmu hingga akhir.

