
PONTIANAK, Binkari — Jarak boleh memisahkan, waktu boleh mengikis, tetapi rindu pada kampung halaman tak pernah benar-benar padam. Kamis malam itu, rindu menemukan jalannya sendiri, sunyi yang pecah oleh suara bahasa ibu, sederhana namun menghunjam hingga ke relung hati. Kamis, 30 April 2026.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perantauan, sebuah pertemuan menghadirkan makna yang lebih dari sekadar silaturahmi. Bahasa daerah Kepulauan Sangihe kembali hidup dalam percakapan hangat, mengalir tanpa sekat, tanpa basa-basi. Sejenak, Pontianak bukan lagi tanah asing, ia berubah menjadi ruang pulang.
Malam itu, tuan rumah kedatangan tamu sekaligus saudara yaitu Herman Lahungkondo, anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), yang kini mengemban tugas di Komisi II. Kehadirannya di Pontianak dalam rangka agenda nasional, pertemuan seluruh anggota DPRD dari Hanura se-Indonesia, justru melahirkan momen yang jauh lebih personal: temu rasa, temu akar.

Percakapan mereka bukan sekadar nostalgia. Ia bergerak lebih dalam menyentuh denyut nadi daerah. Dari cerita keluarga hingga dinamika pembangunan Kepulauan Sangihe hari ini, dari potensi sumber daya yang belum tergarap maksimal hingga urgensi kemitraan strategis antara pemerintah daerah dan DPRD. Tak ketinggalan, peran pengawasan yang tajam dan berintegritas sebagai fondasi kemajuan masyarakat ikut menjadi sorotan.
Namun di balik diskursus yang serius, ada getar yang tak bisa disembunyikan yaitu kerinduan. Bayangan kampung halaman hadir tanpa diundang, laut yang membentang luas, jalan-jalan kampung yang sederhana, wajah-wajah lama yang penuh cerita, serta semangat masyarakat yang tak pernah padam meski diterpa keterbatasan.
“Pulang” malam itu tak membutuhkan tiket. Ia hadir lewat bahasa, lewat cerita, lewat kehangatan pertemuan.
Ada satu pengakuan yang mengendap, jujur dan tak dibuat-buat, keinginan untuk kembali. Bukan sekadar bernostalgia, tetapi mengabdi. Ikut membangun, ikut menjaga, ikut memastikan tanah kelahiran tidak berjalan sendiri menghadapi tantangan zaman. Waktu mungkin belum berpihak hari ini, tetapi tekad itu sudah tertanam, menunggu momentum yang tepat.

Silaturahmi itu ditutup dengan rasa syukur. Terima kasih disampaikan kepada Herman Lahungkondo dan sahabatnya, anggota DPRD dari Kepulauan Talaud, yang telah meluangkan waktu berkunjung.
Malam itu memberi pelajaran yang tak terbantahkan, kampung halaman bukan semata soal geografis. Ia adalah identitas yang hidup dalam bahasa yang kita ucapkan, dalam cerita yang kita rawat, dan dalam pertemuan yang menghangatkan hati.
Dan ketika itu terjadi, rindu tak lagi menjadi beban. Ia berubah menjadi energi yang suatu hari nanti, akan menemukan jalannya untuk pulang secara utuh.
Asril

