Panen Raya di Tapal Batas RI-PNG, Gubernur Papua : Negara Hadir, Kedaulatan Pangan Ditegakkan

Share

PAPUA, Binkari  – Negara tak boleh absen di beranda terluar. Itu pesan yang tak perlu diterjemahkan panjang lebar ketika Pemerintah Provinsi Papua turun langsung menggelar Panen Raya Jagung Nasional di wilayah tapal batas Republik Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG). Di tanah yang selama ini lebih sering sunyi dari perhatian, ratusan petani lokal justru menunjukkan satu hal: kedaulatan dimulai dari pangan.

Panen raya ini bukan seremoni kosong. Ini adalah pernyataan sikap. Bahwa negara hadir, bukan sekadar memasang patok batas, tetapi memastikan perut rakyat di garis depan tetap terisi.

Gubernur Papua, Mathius Fakhiri, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari strategi besar, bukan tambal sulam kebijakan. Ia bicara lugas,  kemandirian pangan di Tanah Papua bukan pilihan, melainkan keharusan. Wilayah perbatasan, kata dia, bukan halaman belakang. Ia adalah wajah depan yang menentukan harga diri bangsa.

“Penguatan sektor pertanian di wilayah tapal batas memiliki nilai strategis. Ini soal stabilitas pangan, ini soal keberlangsungan hidup masyarakat,” tegasnya.

Di tengah ancaman krisis global dan fluktuasi pasokan pangan, langkah ini menjadi relevan bahkan mendesak. Ketika banyak daerah masih bergantung pada distribusi dari luar, Papua mulai menanam kekuatan dari dalam. Jagung bukan sekadar komoditas. Ia menjadi simbol perlawanan terhadap ketergantungan.

Ratusan petani yang terlibat bukan hanya pelaku, tetapi garda terdepan. Mereka bekerja di tanah yang keras, di medan yang tak ramah, namun tetap menghasilkan. Tanpa sorotan kamera yang berlebihan, tanpa janji-janji manis yang sering berakhir basi.

Panen raya ini juga menyampaikan pesan lain yang tak kalah penting. Pembangunan tidak boleh berhenti di kota. Jika negara ingin kuat, maka desa, terutama di perbatasan harus lebih dulu berdiri tegak.

Kini, bola ada di tangan pemerintah. Konsistensi adalah kunci. Panen raya tak boleh berhenti sebagai agenda tahunan yang hanya ramai di awal lalu hilang dalam laporan. Yang dibutuhkan adalah kesinambungan: akses pupuk, distribusi hasil, hingga jaminan pasar.

Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan bukan soal menanam hari ini dan memanen esok. Ini soal keberanian menjaga komitmen, bahkan ketika sorotan publik mulai redup.

Di tapal batas RI–PNG, pesan itu sudah ditanam. Tinggal menunggu: apakah negara akan terus merawatnya, atau kembali membiarkannya tumbuh sendiri tanpa arah.

Sem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *