Hari Buruh, Pemkab Sangihe Dorong Lingkungan Kerja Bersih dan Upah Naik 20 Persen

Share

TAHUNA, Binkari — Peringatan Hari Buruh bukan lagi panggung basa-basi. Di Kepulauan Sangihe, momentum itu dijawab dengan sikap tegas yaitu hadir, bekerja, dan mengambil keputusan.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe turun langsung dalam peringatan Hari Buruh Nasional, Jumat (1/05/2026), di Kantor UPP Kelas II Tahuna. Bupati Michael Thungari bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari tidak sekadar datang untuk memberi sambutan, mereka hadir untuk memastikan negara tidak absen di tengah denyut nadi para pekerja.

Di lokasi yang sama, unsur Forkopimda berdiri sejajar dengan puluhan buruh pelabuhan. Tak ada jarak. Tak ada sekat. Yang ada hanya satu pesan: kerja harus dihargai, buruh tidak boleh dipinggirkan.

Namun yang paling mencolok, peringatan kali ini menanggalkan wajah lama yang seremonial. Buruh tidak diminta bertepuk tangan,cmereka bergerak. Aksi bersih-bersih lingkungan kerja menjadi simbol bahwa martabat kerja dimulai dari ruang yang layak. Sampah diangkut, area ditata, pelabuhan dibersihkan. Bukan sekadar fisik yang dirapikan, tetapi juga kesadaran kolektif yang dibangun.

Di tengah aktivitas itu, satu pesan penting disampaikan bahwa lingkungan kerja yang bersih bukan pilihan, melainkan keharusan. Sebab dari sanalah kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas bermula.

Bupati Michael Thungari tidak menutup mata. Ia membaca situasi dengan jernih. Buruh butuh lebih dari sekadar ucapan terima kasih. Mereka butuh kebijakan yang terasa. Dan itu dijawab dengan langkah konkret: kenaikan tarif upah sebesar 20 persen.

Keputusan ini bukan tanpa makna. Di tengah tekanan ekonomi dan tuntutan hidup yang kian tinggi, angka 20 persen menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah mulai bergerak ke arah yang lebih berpihak.

“Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus mendorong etos kerja yang lebih profesional,” tegas Thungari.

Langkah tersebut memberi pesan tegas: kesejahteraan buruh tidak boleh terus ditunda. Tidak boleh lagi hanya menjadi catatan rapat yang berdebu di meja birokrasi.

Peringatan Hari Buruh di Sangihe tahun ini menegaskan satu hal, sinergi bukan sekadar jargon. Ketika pemerintah dan buruh berdiri di garis yang sama, maka yang lahir bukan sekadar seremoni, melainkan gerak nyata.

Kini pertanyaannya sederhana, apakah langkah ini akan konsisten dijaga, atau kembali larut dalam rutinitas tanpa arah?

Waktu yang akan menjawab. Namun setidaknya, Sangihe telah memulai dengan sikap, bukan sekadar kata.

(⭐️)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *