‎

Pemprov Papua Dorong Pelestarian Bahasa Daerah Lewat Kebijakan dan Dukungan Anggaran

Share

JAYAPURA, Binkari — Pemerintah Provinsi Papua mendorong pelestarian bahasa daerah melalui kebijakan konkret, dukungan anggaran, dan keterlibatan aktif masyarakat agar bahasa lokal tetap hidup dan digunakan lintas generasi.

Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen mengatakan pelestarian bahasa daerah tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui program berkelanjutan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.

“Karena itu, pelestarian bahasa tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Kita membutuhkan kebijakan yang nyata, dukungan anggaran, tenaga yang kompeten, serta keterlibatan aktif masyarakat,” kata Aryoko dalam pembukaan Kongres Bahasa Daerah 2026 di Kota Jayapura, 19 Oktober 2026.

Aryoko berharap kongres tersebut menghasilkan rekomendasi kebijakan yang terukur dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam melindungi bahasa daerah.

Ia juga mendorong penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga, satuan pendidikan, kegiatan adat, dan ruang publik sesuai dengan konteksnya.

Menurut Aryoko, pelestarian bahasa merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan komitmen jangka panjang agar bahasa daerah tetap menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat Papua.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengatakan keberlangsungan bahasa daerah sangat ditentukan oleh penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai pemerintah daerah dapat mengambil peran melalui kebijakan yang mendorong masyarakat menggunakan bahasa daerah secara konsisten, baik di lingkungan pemerintahan maupun dalam aktivitas sosial.

Abdul Mu’ti mencontohkan kebijakan di Jawa Tengah yang menetapkan satu hari khusus untuk mengenakan pakaian daerah sekaligus menggunakan bahasa daerah. Kebijakan tersebut diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk rapat yang diselenggarakan pada hari tersebut.

Selain membiasakan penggunaan bahasa secara lisan, ia menekankan pentingnya pengembangan bahasa tulis sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan bahasa daerah.

“Tapi satu hal yang saya kira sangat penting adalah bahasa itu akan bisa lestari kalau ada bahasa tulis,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia mengatakan sejumlah bahasa daerah masih mengandalkan tradisi lisan dan belum memiliki sistem bahasa tulis yang memadai. Karena itu, pengembangan dokumentasi dan tradisi tulis dinilai penting untuk mendukung pelestarian bahasa agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Melalui Kongres Bahasa Daerah 2026, upaya pelestarian bahasa diharapkan semakin diperkuat melalui kebijakan yang terarah, pembiasaan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, serta pengembangan bahasa lisan dan tulisan.

Sem Gombo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *