
SANGIHE, Binkari — Di tengah keterbatasan lapangan kerja yang masih membayangi Kabupaten Kepulauan Sangihe, banyak anak daerah harus berhadapan dengan kenyataan pahit: ijazah di tangan, semangat membara, tetapi kesempatan kerja belum sebanding dengan jumlah pencari nafkah.
Di tengah tantangan itu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kepulauan Sangihe memilih untuk tidak menyerah pada keadaan. Pemerintah daerah kini mendorong masyarakat memanfaatkan peluang kerja di luar negeri melalui jalur resmi sebagai salah satu solusi untuk membuka masa depan yang lebih baik.
Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Sangihe, Femmy Montoang, menegaskan bahwa sejumlah negara masih membutuhkan tenaga kerja Indonesia di berbagai sektor strategis, mulai dari kesehatan, teknologi informasi, manufaktur, hingga profesi pendamping lanjut usia (caregiver).
Menurutnya, bekerja di luar negeri bukan sekadar soal mencari penghasilan yang lebih besar. Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi pintu untuk meningkatkan keterampilan, memperluas wawasan, serta membangun daya saing sumber daya manusia Sangihe di tingkat global.
“Kesempatan kerja di luar negeri masih terbuka cukup luas bagi tenaga kerja yang memenuhi persyaratan. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan peluang tersebut melalui prosedur yang resmi dan aman, sehingga hak-hak pekerja dapat terlindungi dengan baik,” ujar Femmy saat diwawancarai, Rabu (3/6/2026).
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di balik impian bekerja di negeri orang, terdapat risiko yang tidak boleh diabaikan. Karena itu, Disnaker menegaskan pentingnya mengikuti seluruh prosedur resmi agar para pekerja migran terlindungi secara hukum dan terhindar dari praktik perekrutan ilegal yang kerap memakan korban.
Femmy menjelaskan, pekerja yang menjalani kontrak kerja selama dua hingga tiga tahun berpotensi memperoleh pendapatan yang jauh lebih baik dibandingkan sebagian peluang kerja yang tersedia di daerah. Dari sana, mereka memiliki kesempatan menabung, membantu keluarga, membangun usaha, hingga mempersiapkan masa depan yang lebih layak.
Namun keberhasilan di negeri orang, kata dia, tidak hanya ditentukan oleh keterampilan kerja. Mental yang kuat, disiplin tinggi, kemampuan beradaptasi, serta rasa tanggung jawab menjadi bekal utama yang harus dimiliki setiap calon pekerja migran.
“Siapa yang ingin berhasil di luar negeri harus siap bekerja keras, menghormati aturan, dan mampu menyesuaikan diri dengan budaya serta lingkungan kerja yang berbeda,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe memastikan tidak akan melepas begitu saja warganya yang bekerja di luar negeri. Melalui koordinasi dan komunikasi yang terus dijalin, kondisi para pekerja tetap dipantau sebagai bentuk perhatian dan tanggung jawab pemerintah terhadap masyarakatnya.
Menurut Femmy, hingga saat ini komunikasi dengan warga Sangihe yang bekerja di berbagai negara berjalan baik. Mereka secara rutin menyampaikan perkembangan dan kondisi selama menjalani pekerjaan di negara tujuan.
Tak hanya fokus membuka peluang kerja baru, Disnaker juga menyoroti persoalan yang masih menjadi pekerjaan rumah di daerah, yakni kepatuhan perusahaan terhadap aturan pengupahan.
Pemerintah masih menemukan adanya perusahaan yang belum sepenuhnya menjalankan kewajiban memberikan upah sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, pembinaan dan sosialisasi terus dilakukan agar hak-hak pekerja tidak dikorbankan demi keuntungan semata.
“Pembinaan terhadap perusahaan terus kami lakukan agar seluruh pekerja memperoleh haknya sesuai aturan yang berlaku. Kepatuhan terhadap ketentuan pengupahan merupakan bagian penting dalam menciptakan hubungan industrial yang sehat dan berkeadilan,” jelas Femmy.
Di tengah sempitnya ruang kerja yang tersedia, Sangihe kini sedang mencari jalan keluar. Sebagian anak daerah mungkin harus menyeberangi lautan dan melintasi batas negara untuk meraih masa depan. Namun satu hal yang tak boleh ikut ditinggalkan adalah perlindungan atas hak dan martabat mereka sebagai pekerja.
Sebab sejauh apa pun langkah kaki melangkah ke negeri seberang, harapan keluarga dan harga diri daerah tetap melekat di pundak mereka.
Yosua

