‎

Festival Danau Sentani ke-15 Jadi Penggerak Ekonomi Berbasis Budaya Papua

Share

SENTANI, Binkari – Festival Danau Sentani (FDS) ke-15 Tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang pelestarian dan pertunjukan budaya, tetapi diarahkan sebagai ruang tumbuh ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM, kuliner tradisional, pangan lokal, dan kerajinan berbasis potensi Papua.

Gubernur Papua Matius Fakhiri mengatakan kekayaan budaya dan potensi lokal harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurut dia, penyelenggaraan festival budaya harus memberi ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menciptakan peluang ekonomi.

“Kita ingin budaya tidak berhenti di atas panggung. Budaya harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Fakhiri saat membuka Festival Danau Sentani ke-15 di Pantai Kalkhote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Kamis (3/9/2026).

Fakhiri mengatakan pengembangan festival kuliner tradisional, pangan lokal, pameran kerajinan, pertunjukan seni, serta keterlibatan pelaku UMKM merupakan bagian penting dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, berbagai potensi tersebut tidak boleh hanya ditampilkan sebagai bagian dari seremoni tahunan, tetapi perlu dikembangkan secara berkelanjutan sehingga mampu menciptakan nilai ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Papua.

“Papua Sejahtera berarti kekayaan budaya dan potensi lokal harus mampu membuka ruang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai Festival Danau Sentani memiliki posisi strategis karena mempertemukan kekayaan budaya, kreativitas masyarakat, potensi pariwisata, dan aktivitas ekonomi dalam satu ruang. Karena itu, keberlanjutan festival perlu diarahkan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha lokal.

Festival Danau Sentani ke-15 Tahun 2026 berlangsung melalui rangkaian pra-festival pada 25–29 Agustus 2026, sedangkan puncak festival digelar pada 3–5 September 2026 di Pantai Kalkhote.

Sejumlah atraksi budaya khas Papua ditampilkan dalam festival tersebut, antara lain Isosolo atau tarian di atas perahu, panen ulat sagu, pangkur sagu, seni musik dan tari, cerita rakyat, kerajinan, hingga kuliner tradisional.

Fakhiri juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, dunia usaha, akademisi, seniman, perempuan, pemuda, komunitas, media, hingga masyarakat, untuk bersama-sama memperkuat pengembangan budaya dan ekonomi Papua.

“Papua akan maju apabila kita berjalan bersama, bergandeng tangan dalam semangat gotong-royong, persaudaraan, dan saling menghormati,” katanya.

Gubernur berharap Festival Danau Sentani tidak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang perjumpaan masyarakat, sumber kebanggaan daerah, wadah kreativitas generasi muda, sekaligus penggerak ekonomi berbasis budaya dan potensi lokal.

Fakhiri juga menyampaikan apresiasi kepada para Ondofolo, Ondoafi, dan Khoselo yang dinilai turut menjaga ketenteraman sehingga pembukaan Festival Danau Sentani ke-15 dapat berlangsung aman, tertib, dan damai.

Sem Gombo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *