
SUKAJAYA, Binkari – Dini hari yang seharusnya sunyi berubah menjadi mimpi buruk. Api datang tanpa salam, melahap tanpa ampun. Kawasan perumahan Tenaga Kerja Indonesia (TKI/PMI) di lingkungan operasional WTK Sukajaya, Rabu (29/4/2026) sekitar pukul 01.11, porak-poranda dihajar si jago merah.
Dalam hitungan menit, kobaran api menjalar liar, menyusuri dinding-dinding kuarter yang rapuh oleh waktu dan kelengahan. Dua baris bangunan, total 20 pintu, luluh lantak. Tak tersisa selain arang dan puing yang masih mengepulkan asap duka.
Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, musuh lama yang kerap diremehkan, namun mematikan saat lengah mengambil alih. Percikan kecil berubah menjadi bencana besar, menyergap saat para pekerja terlelap, tanpa ruang untuk bersiap.
Dua pekerja migran menjadi korban dalam peristiwa ini. Luka bakar di kaki dan punggung menjadi saksi bisu betapa ganasnya api yang mengamuk di tengah malam. Rasa sakit mereka adalah harga mahal dari satu kelalaian yang belum tentu disadari sebelumnya.
Namun di tengah kepanikan, respons cepat menjadi penentu. Tim medis dari Klinik WTK Sukajaya bergerak tanpa jeda, memberikan pertolongan pertama dengan sigap. Kedua korban kini menjalani perawatan intensif, berjuang memulihkan kondisi di bawah pengawasan tenaga kesehatan.
Manajemen WTK Sukajaya menyatakan sikap tegas, keselamatan dan kesehatan pekerja adalah prioritas utama. Pernyataan itu kini diuji, bukan sekadar kata, tetapi langkah nyata dalam penanganan pasca bencana.
Sementara itu, penyelidikan terus berjalan. Penyebab pasti korsleting masih ditelusuri, karena di balik setiap percikan, selalu ada kelalaian yang harus dipertanggungjawabkan.
Peristiwa ini menjadi alarm keras bahwa bahaya tak pernah tidur. Dan ketika kewaspadaan padam, api akan mengambil alih segalanya.
Syamzir

