
MANADO, Binkari – Denyut nadi kaum pekerja kembali berdentum. Bukan sekadar seremoni, bukan pula panggung basa-basi. 1 Mei 2026 hadir sebagai momentum perlawanan yang terukur, suara kolektif yang menuntut keadilan, bukan janji kosong.
Jhon Pade berdiri di garis depan. Tegas. Lugas. Tanpa tedeng aling-aling. Ia menyebut, peringatan May Day tahun ini bukan hanya perayaan, melainkan gerakan bersama pekerja buruh yang harus solid, terarah, dan berani menyuarakan hak-haknya.
“Buruh tidak butuh dikasihani. Buruh butuh dihargai,” tegas Jhon, dengan nada yang tak memberi ruang untuk ditawar.
Menurutnya, realitas di lapangan masih jauh dari kata ideal. Upah yang belum sepenuhnya layak, jaminan kerja yang rapuh, hingga perlindungan yang sering kali hanya hidup di atas kertas. Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika industri, buruh kerap menjadi pihak yang paling dulu merasakan dampaknya, namun paling akhir mendapat perhatian.
May Day 2026, kata Jhon Pade, harus menjadi titik balik. Gerakan buruh tidak boleh tercerai-berai. Persatuan adalah kekuatan utama. Tanpa itu, suara buruh hanya akan menjadi gema yang hilang di tengah riuh kepentingan.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah dan pengusaha untuk tidak menutup mata. Dialog harus dibuka, bukan dihindari. Kebijakan harus berpihak, bukan sekadar formalitas.
“Kalau buruh kuat, ekonomi juga kuat. Jangan dibalik logikanya,” ujar Jhon Pade, tajam.
Peringatan Hari Buruh Internasional tahun ini diproyeksikan diwarnai berbagai aksi, mulai dari penyampaian aspirasi, diskusi publik, hingga konsolidasi organisasi buruh. Semua mengarah pada satu tujuan: keadilan dan kesejahteraan yang nyata, bukan semu.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, satu hal tetap pasti, buruh bukan pelengkap pembangunan. Mereka adalah fondasi. Dan fondasi yang diabaikan, cepat atau lambat, akan meruntuhkan segalanya.
May Day bukan sekadar tanggal. Ia adalah peringatan keras bahwa di balik setiap kemajuan, ada tangan-tangan pekerja yang tak boleh lagi dipinggirkan.
Sunny

