Silumarning Ludes dalam Sekejap, Dari Balik Jeruji Lapas Bulukumba, Lahir Harapan Baru yang Mengalahkan Stigma

Share

Palopo, Binkari – Senin13 April 2026, Di tengah riuhnya perayaan Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62, sebuah ironi sekaligus harapan muncul dari sudut yang kerap dipandang sebelah mata: lembaga pemasyarakatan.

Produk “Silumarning” (Silumba Jagung Marning), hasil karya warga binaan Lapas Kelas IIA Bulukumba, justru menjadi primadona dalam Bazar Produk Unggulan Warga Binaan yang digelar oleh Kanwil Ditjenpas Sulawesi Selatan, Sabtu (11/04).

Bertempat di Gedung Opu Daeng Risadju, ratusan pengunjung memadati arena bazar. Namun siapa sangka, di antara beragam produk dari berbagai daerah, justru karya dari balik jeruji yang paling cepat menghilang dari etalase.

Hanya dalam hitungan waktu, 100 bungkus “Silumarning” habis terjual.

Fenomena ini bukan sekadar soal rasa gurih atau kemasan menarik. Lebih dari itu, ia mematahkan stigma lama—bahwa warga binaan hanya identik dengan masa lalu, bukan masa depan.

Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Sulawesi Selatan, Rudy Fernando Sianturi, yang meninjau langsung kegiatan tersebut bahkan ikut membeli produk tersebut. Ia mengakui kualitas “Silumarning” sudah layak bersaing di pasar umum.

Pernyataan itu seolah menjadi tamparan halus bagi cara pandang masyarakat selama ini.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Lapas Bulukumba, Ashari, tak menutupi rasa bangganya.

“Ini bukan sekadar penjualan. Ini bukti bahwa pembinaan berjalan dan menghasilkan sesuatu yang nyata,” ujarnya.

Namun di balik keberhasilan itu, ada pertanyaan yang lebih besar:

Mengapa produk berkualitas seperti ini baru mendapat perhatian saat momentum seremonial?

Padahal, jika didorong secara berkelanjutan, “Silumarning” dan produk serupa berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis pembinaan.

Bazar HBP ke-62 seharusnya tidak berhenti sebagai ajang pamer tahunan. Ia harus menjadi titik awal perubahan paradigma—bahwa lembaga pemasyarakatan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, melainkan ruang produksi, inovasi, dan pemulihan sosial.

“Silumarning” hari ini adalah bukti kecil dari potensi besar yang selama ini tersembunyi.

Dan mungkin, yang perlu diubah bukan kemampuan mereka di dalam, tetapi cara kita di luar dalam memberi kesempatan kedua.

Abdul Rauf Bulukumba Sulselbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *