Seorang Pria Diduga Datangi Warga Sambil Menenteng Samurai Terhunus, Korban Lapor ke Polisi

Share

BULUKUMBA, Binkari – Malam yang semula dihiasi alunan musik dan canda persaudaraan mendadak berubah mencekam. Di bawah kolong sebuah rumah panggung di Dusun Lemponge, Desa Karama, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, suasana yang tenang seketika berubah menjadi ketakutan setelah seorang pria diduga datang sambil menggenggam sebilah samurai terhunus.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa malam, 28 Juli 2026, itu kini telah dilaporkan korban berinisial W ke Polsek Rilau Ale untuk mendapatkan penanganan hukum.

Menurut keterangan korban, malam itu dirinya bersama sejumlah kerabat dan teman tengah berkumpul di kolong rumah sepupunya sambil menikmati musik. Tidak ada keributan maupun perselisihan yang terjadi. Namun suasana berubah ketika seorang warga yang dikenal dengan sapaan Olleng datang ke lokasi.

Korban menuturkan bahwa pria tersebut diduga datang untuk ketiga kalinya ke lokasi sambil membawa samurai yang sudah terhunus dari sarungnya. Setibanya di pekarangan rumah panggung, yang bersangkutan disebut sempat mengarahkan senjata tajam tersebut ke arah korban sambil merekam aktivitas warga yang sedang berkumpul.

“Saya dekati dan ajak bicara baik-baik. Saya bilang mari duduk dan bicara dengan tenang. Saya juga menyarankan agar pulang ke rumah untuk menenangkan diri,” ungkap W.

Namun menurut pengakuan korban, ajakan tersebut tidak mendapat respons positif. Dalam jarak yang sangat dekat, sekitar satu meter, pelaku diduga melakukan ayunan samurai ke arah leher korban.

“Kalau saya tidak menunduk saat itu, mungkin ceritanya sudah berbeda,” ujar korban dengan nada trauma.

Keterangan serupa juga disampaikan seorang saksi yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku menyaksikan langsung situasi menegangkan tersebut.

“Kalau korban tidak cepat menunduk, bisa saja mengenai lehernya. Dari awal datang dia sudah pegang samurai dan merekam. Kami hanya minta supaya bicara baik-baik dan pulang menenangkan diri,” tuturnya.

Peristiwa ini sontak mengundang perhatian warga sekitar. Banyak yang menyayangkan jika persoalan yang seharusnya dapat diselesaikan melalui komunikasi justru berujung pada dugaan ancaman menggunakan senjata tajam.

Kini masyarakat menanti langkah aparat kepolisian dalam mengusut laporan tersebut. Sebab ketika sebilah samurai telah terhunus di tengah lingkungan permukiman, yang terancam bukan hanya satu orang, melainkan rasa aman seluruh warga.

Malam itu, musik yang seharusnya menjadi penghibur justru nyaris berubah menjadi ratapan. Dan di antara nada yang terputus oleh ketakutan, tersisa satu pertanyaan yang menggantung di benak warga: mengapa sebuah keberatan harus dibawa dengan mata senjata, bukan dengan kepala dingin?

Basri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *