Pertalite Langka, Antrean Mengular, Ada Apa Dengan Pasokan BBM Bersubsidi di Kolaka Timur?

Share

KOLAKA TIMUR, Binkari — Ketika mobil dan sepeda motor mengular panjang dari dua arah di sekitar SPBU Pinanggo, persoalan yang terlihat bukan lagi sekadar antrean biasa. Di balik deretan kendaraan yang menunggu berjam-jam, muncul satu pertanyaan tajam: mengapa BBM jenis Pertalite bersubsidi begitu sulit diperoleh, sementara kebutuhan masyarakat terus berjalan tanpa bisa menunggu?

Setiap kali pasokan Pertalite tiba, SPBU Pinanggo langsung dipadati kendaraan. Antrean panjang seolah menjadi pemandangan yang berulang, datang bersama tangki yang menipis dan pulang membawa harapan agar kebagian sebelum persediaan kembali habis.

Kondisi tersebut memunculkan keresahan masyarakat. Sebab, Pertalite bukan sekadar bahan bakar. Bagi petani, pedagang, pengemudi, pekerja, dan masyarakat kecil, BBM bersubsidi adalah penyangga aktivitas ekonomi sehari-hari.

Namun, ketika pasokan datang dan langsung diserbu antrean dari dua arah, publik patut mempertanyakan apakah kuota yang tersedia sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kolaka Timur. Apakah persoalannya berada pada keterbatasan pasokan, kelancaran distribusi, ketepatan sasaran, atau ada persoalan lain yang perlu dibuka secara transparan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak boleh dibiarkan hanya menjadi bahan percakapan di ujung antrean.

Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu turun melihat langsung kondisi di lapangan. Bukan hanya mencatat panjangnya antrean, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan BBM masyarakat, kuota yang diterima, jadwal distribusi, serta mekanisme pengawasan penyalurannya.

Jika kebutuhan masyarakat meningkat, maka data harus menjadi dasar untuk mengusulkan penambahan kuota. Jika distribusi mengalami kendala, maka persoalannya harus segera dibenahi. Jika terdapat dugaan penyaluran yang tidak tepat sasaran, maka pengawasan perlu diperketat dan ditelusuri secara terbuka sesuai ketentuan.

Jangan sampai masyarakat yang benar-benar membutuhkan justru harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan beberapa liter Pertalite, sementara aktivitas ekonomi mereka ikut tersendat.

Antrean panjang di SPBU Pinanggo seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah. Sebab, ketika kendaraan mengular hingga memadati dua arah jalan, yang sedang terlihat bukan hanya kelangkaan BBM, tetapi juga kebutuhan rakyat yang belum sepenuhnya terjawab.

Masyarakat Kolaka Timur tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin BBM bersubsidi tersedia, mudah diakses, tepat sasaran, dan cukup untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

Jangan biarkan antrean menjadi rutinitas, sementara solusi hanya tinggal janji. Karena di balik setiap kendaraan yang menunggu, ada dapur yang harus tetap mengepul dan roda ekonomi yang tidak boleh berhenti.

Sofian Agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *