Ketua DPRD Perioritaskan APBDP Tahun 2026 Untuk Pasar Towoe 400 Juta, Kadisperindag : Solusi Nyata

Share

 

TAHUNA, Binkari – Air yang menggenang di Pasar Towo bukan sekadar persoalan drainase. Ia adalah simbol dari persoalan yang terlalu lama dibiarkan tumbuh di jantung ekonomi rakyat Kabupaten Kepulauan Sangihe. Selasa 28 Juli 2026.

Saat hujan turun, lorong-lorong pasar kerap berubah menjadi kubangan. Pedagang mengeluh, pembeli terganggu, dan aktivitas ekonomi rakyat tersendat. Namun pertanyaan yang muncul adalah: mengapa masalah yang begitu nyata ini baru mendapat perhatian serius setelah bertahun-tahun menjadi keluhan masyarakat?

Di tengah sorotan tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe Denny Roy Tampi memprioritaskan usulan anggaran sebesar Rp400 juta yang diajukan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) dalam APBD Perubahan Tahun 2026 untuk perbaikan drainase Pasar Towo dan sejumlah kebutuhan lainnya.

Langkah ini patut diapresiasi. Namun publik tentu tidak hanya membutuhkan janji anggaran. Masyarakat menunggu bukti bahwa dana tersebut benar-benar menjawab akar persoalan, bukan sekadar menjadi catatan manis dalam dokumen APBDP.

Kepala Disperindag Kabupaten Kepulauan Sangihe, Treenov Ponto, berharap anggaran tersebut dapat direalisasikan sehingga pekerjaan drainase dapat segera dilaksanakan.

Menurutnya, perbaikan drainase sangat penting untuk memperlancar aliran air di dalam pasar dan mengakhiri genangan yang selama ini menjadi masalah bagi pedagang maupun pengunjung.

Tetapi persoalan sesungguhnya lebih besar dari sekadar saluran air. Pasar Towo merupakan pusat perputaran ekonomi rakyat. Ketika drainase rusak dan genangan dibiarkan berulang, yang terhambat bukan hanya air, melainkan roda ekonomi masyarakat kecil yang setiap hari menggantungkan hidupnya di pasar tersebut.

Karena itu, APBD Perubahan 2026 menjadi momentum penting untuk membuktikan bahwa anggaran daerah benar-benar berpihak kepada kebutuhan rakyat. DPRD dan pemerintah daerah harus memastikan setiap rupiah yang dialokasikan menghasilkan pekerjaan yang berkualitas, tepat sasaran, dan dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang.

Rakyat Sangihe sudah terlalu sering mendengar rencana. Kini mereka menunggu tindakan. Sebab bagi pedagang Pasar Towo, pembangunan tidak diukur dari banyaknya rapat atau tebalnya dokumen anggaran. Pembangunan diukur dari hal yang sederhana, apakah setelah hujan turun, pasar masih tergenang atau akhirnya bisa bernapas lega.

Rp400 juta bukan sekadar angka. Ia adalah ujian kepekaan, ujian pengawasan, dan ujian keberpihakan pemerintah terhadap rakyat yang selama ini berdiri di tengah genangan sambil menunggu solusi yang tak kunjung datang.

Gambatte Asril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *