
Minahasa Tenggara, Binkari – Ruas Jalan Nasional Basaan–Ratatotok kembali menyisakan tanda tanya besar. Di beberapa titik, badan jalan terlihat rusak dan berlubang, membentuk kubangan yang berpotensi menjadi perangkap bagi pengendara, terutama kendaraan roda dua.
Fakta di lapangan menunjukkan kerusakan tersebut bukan sekadar retakan kecil yang dapat diabaikan. Lubang-lubang yang menganga di badan jalan telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan. Pada malam hari, kondisi itu semakin berbahaya karena minimnya visibilitas. Satu kesalahan kecil saja dapat berujung kecelakaan.
Awak media ini yang melintas pada Sabtu (25/7/2026) bahkan nyaris terjebak dalam kubangan jalan rusak saat melintasi ruas tersebut pada siang hari. Jika siang saja sudah berbahaya, bagaimana nasib pengendara yang melintas dalam gelap malam dengan kecepatan normal?
Pertanyaan yang kini berkembang di tengah masyarakat bukan lagi sekadar kapan jalan itu diperbaiki, melainkan mengapa kerusakan bisa begitu cepat terjadi pada ruas jalan berstatus nasional. Publik berhak mengetahui apakah kualitas pekerjaan telah sesuai standar, apakah proses pengawasan berjalan efektif, dan apakah pemeliharaan rutin benar-benar dilakukan sebagaimana mestinya.

Jalan nasional dibangun menggunakan uang rakyat. Karena itu, setiap kerusakan dini yang muncul wajib menjadi perhatian serius. Jangan sampai publik terus disuguhi pola yang sama: diperbaiki, rusak, ditambal, lalu rusak kembali tanpa pernah ada evaluasi menyeluruh terhadap akar persoalan.
Kasatker Jalan Nasional, Ringgo, diharapkan tidak hanya menunggu laporan atau keluhan masyarakat. Kondisi di lapangan menuntut langkah cepat dan investigasi teknis yang transparan. Jika terdapat faktor kualitas pekerjaan, beban kendaraan berlebih, atau lemahnya pengawasan pemeliharaan, maka semuanya harus dibuka secara terang kepada publik.
Sebab yang dipertaruhkan bukan sekadar aspal yang pecah, melainkan keselamatan masyarakat yang setiap hari melintas di atasnya.
Jangan sampai lubang-lubang di Jalan Nasional Basaan–Ratatotok berubah menjadi monumen bisu yang baru mendapat perhatian setelah memakan korban. Sebelum ada nyawa yang melayang, publik menuntut jawaban: mengapa jalan ini cepat rusak, dan siapa yang harus bertanggung jawab?
Asril

