
SANGIHE, Binkari — Juni kembali datang membawa jejak sejarah. Di bulan yang selalu lekat dengan nama besar Bung Karno, semangat perjuangan itu kembali dipanggil dari beranda utara negeri. Bukan dengan pidato yang menggelegar, melainkan melalui langkah kaki, doa di pusara para pejuang, dan benih-benih yang ditanam di tanah sendiri.
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Kepulauan Sangihe menyiapkan serangkaian kegiatan untuk memperingati Bulan Bung Karno 2026. Mengusung tema “Setialah Kepada Sumbermu”, peringatan kali ini menjadi upaya merawat ingatan, menyalakan kembali nasionalisme, serta menghidupkan semangat pengabdian kepada rakyat yang diwariskan Sang Proklamator.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kepulauan Sangihe, Denny Roy Tampi, mengatakan bahwa dari sejumlah program nasional yang dicanangkan partai, pihaknya memilih fokus pada kegiatan yang paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat Sangihe.
“Secara nasional ada sejumlah agenda yang menjadi bagian dari Bulan Bung Karno. Namun karena sebagian kegiatan dipusatkan di tingkat provinsi, kami memfokuskan pelaksanaan pada tiga program utama,” ujar Tampi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan jalan sehat. Sebuah langkah sederhana, namun sarat makna. Sebab perjuangan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama.
Tak hanya itu, kader partai juga akan melakukan ziarah ke makam tokoh-tokoh pejuang daerah yang telah mengabdikan hidupnya bagi organisasi dan masyarakat. Nama almarhum Lori dan almarhum Hieronimus Rompas Makagansa menjadi bagian dari jejak sejarah yang akan kembali dikenang.
Di antara nisan-nisan yang sunyi, para kader akan belajar bahwa perjuangan tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Kami terus berkomunikasi dengan keluarga karena kegiatan ini merupakan bentuk penghargaan atas dedikasi dan perjuangan mereka,” kata Tampi.
Namun Bulan Bung Karno di Sangihe tidak berhenti pada mengenang masa lalu. Semangat itu diterjemahkan menjadi kerja nyata melalui program ketahanan pangan dengan penanaman jagung, sagu, dan berbagai tanaman lokal lainnya.
Di tanah yang subur, benih-benih ditanam bukan hanya untuk menghasilkan panen, tetapi juga untuk menumbuhkan kemandirian. Sebab Bung Karno pernah mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di lingkungan masing-masing,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Denny Roy Tampi memastikan Kabupaten Kepulauan Sangihe tidak mengirimkan perwakilan pada Turnamen Sepak Bola Bulan Bung Karno tingkat Provinsi Sulawesi Utara tahun ini. Menurutnya, hal itu terjadi karena sistem seleksi terbuka dengan kuota yang terbatas.
“Karena proses seleksi bersifat terbuka dan kuotanya terbatas, tidak semua DPC memperoleh kesempatan mengirimkan tim. Oleh karena itu, Sangihe tidak menerima instruksi untuk mengikutsertakan perwakilan tahun ini,” ungkapnya.
Bagi PDI Perjuangan Sangihe, Bulan Bung Karno bukan sekadar agenda tahunan yang datang lalu berlalu. Ia adalah cermin yang mengingatkan bahwa politik sejatinya lahir untuk melayani rakyat, bahwa persatuan harus dijaga, dan bahwa gotong royong adalah denyut nadi bangsa Indonesia.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, suara Bung Karno seolah masih bergema dari lembar-lembar sejarah: jangan pernah melupakan akar perjuangan.
Dan di tanah Sangihe yang berbatasan langsung dengan negeri lain, pesan itu kembali ditanam. Bukan di atas panggung megah, melainkan di hati rakyat yang terus percaya bahwa Indonesia dibangun oleh semangat kebersamaan, pengorbanan, dan cinta kepada tanah air.
Yosua

