KAYONG UTARA, KALIMANTAN BARAT, BINKARI — Krisis air bersih mulai menjadi sorotan serius di sejumlah wilayah Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kemarau panjang membuat sumber-sumber air warga mengalami penyusutan bahkan sebagian mulai mengering.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih untuk keperluan rumah tangga, mulai dari mencuci, mandi hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.
Berdasarkan pantauan awak media, sebagian warga terpaksa membeli air bersih yang disuplai menggunakan kendaraan pengangkut air berkapasitas sekitar 2.000 liter. Harganya disebut berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per tangki, tergantung jarak pengantaran dan lokasi tujuan.
Bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi, kondisi ini tentu menjadi beban tambahan. Air yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar justru harus dibeli dengan harga yang tidak sedikit.
Sumber air masyarakat di sejumlah wilayah diketahui berasal dari mata air pegunungan yang ditampung melalui waduk sebelum dialirkan menggunakan jaringan pipa ke rumah-rumah warga. Namun, kemarau yang berlangsung cukup panjang menyebabkan debit sumber air dan waduk penampungan terus menurun.
Tak hanya faktor cuaca, kondisi lingkungan di sekitar kawasan sumber mata air juga menjadi perhatian. Berkurangnya pepohonan besar di kawasan pegunungan dikhawatirkan turut memengaruhi kemampuan tanah dalam menyerap dan menyimpan air hujan.
Salah satu pengurus air di Desa Harapan Mulya, Kecamatan Sukadana, Sukur, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp dan telepon menjelaskan bahwa kesulitan air terjadi karena waduk penampungan di kawasan sumber air pegunungan mengalami kekeringan.
“Susahnya air bersih didapat karena sumber air dari gunung dan waduk penampungan mengalami kekeringan,” ujar Sukur kepada awak media.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar: sampai kapan masyarakat harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka?
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Kayong Utara bersama instansi teknis segera turun tangan mencari solusi konkret, baik melalui distribusi air bersih darurat, pemetaan sumber air alternatif maupun langkah jangka panjang untuk menjaga kawasan resapan dan sumber mata air.
Air bersih bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan kebutuhan dasar masyarakat. Jangan sampai warga harus menunggu krisis semakin parah baru pemerintah bergerak.
Kini, perhatian publik tertuju kepada pemerintah daerah: apa langkah konkret yang akan dilakukan untuk mengatasi kelangkaan air bersih di Kayong Utara?
Rusmianto

