
TAHUNA, Binkari — Peradaban besar selalu lahir dari keberanian membaca masa depan. Di negeri kepulauan yang dikepung ombak dan angin, masa depan itu tidak berdiri di gedung-gedung megah, melainkan bertumpu pada laut yang terus memberi tanpa pernah meminta balasan.
Namun laut tak selamanya sabar. Ketika eksploitasi lebih nyaring daripada konservasi, ketika pembangunan lupa pada keseimbangan, alam perlahan mengirimkan isyarat. Karena itulah, setiap gagasan yang lahir untuk melindungi pesisir sesungguhnya adalah ikhtiar menyelamatkan kehidupan.
Kamis (2/7/2026), Dinas Perikanan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe memilih menjawab tantangan itu bukan dengan retorika, melainkan dengan pertarungan ide. Kepala Dinas Perikanan Daerah, Muchaerany Labora, S.Pi., M.Si., tampil sebagai pemateri dalam Diskusi Kelompok Terarah (FGD) Studi Perencanaan dan Pendanaan Publik untuk Masyarakat Pesisir dan Perlindungan Ekosistem di Kabupaten Kepulauan Sangihe yang digelar di Tahuna Beach and Resort.
Bersama para pejabat fungsional dan penyuluh perikanan, forum tersebut menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan yang berpihak pada masyarakat pesisir sekaligus benteng bagi ekosistem laut yang kian menghadapi tekanan zaman. Sebab, anggaran tanpa arah hanyalah angka, tetapi anggaran yang berpihak pada rakyat dan lingkungan adalah investasi bagi generasi yang belum lahir.
Di hari yang sama, denyut pengabdian itu bergema melalui udara. Sekretaris Dinas Perikanan Daerah, Yulianus Dalengkade, M.Si., hadir sebagai narasumber dalam Dialog Interaktif RRI Pro 1 Tahuna, menyampaikan berbagai program dan komitmen pemerintah kepada masyarakat.
Radio menjadi jembatan, sementara dialog menjadi jalan agar kebijakan tidak berhenti di balik meja birokrasi. Sebab, pembangunan yang sejati bukan hanya soal membuat program, tetapi memastikan rakyat memahami, terlibat, dan ikut mengawalnya.
Di tengah derasnya arus perubahan, Dinas Perikanan Sangihe sedang menanam sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebijakan. Mereka sedang menanam kesadaran bahwa laut bukan warisan nenek moyang yang bebas dihabiskan, melainkan titipan anak cucu yang wajib dijaga.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa banyak rapat digelar atau berapa tebal dokumen disusun. Sejarah hanya akan mencatat satu hal: siapa yang memilih menjaga laut ketika banyak orang sibuk mengambil sebanyak-banyaknya darinya.
Gambatte Asril

