Gubernur Fakhiri Dorong Petani dan Nelayan Supiori Jadi Penggerak Program MBG

Share

SUPIORI, Binkari  — Di tengah pembangunan yang terus bergerak di wilayah pesisir Papua, Gubernur Papua Matius D Fakhiri mengirim pesan yang lebih besar dari sekadar pembangunan fisik. Saat meninjau langsung pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Supiori, Jumat (22/5/2026), Fakhiri menegaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh berhenti sebagai proyek pelayanan makan, tetapi harus menjadi mesin penggerak ekonomi rakyat.

Di hadapan progres pembangunan yang terus berjalan, Fakhiri melihat peluang besar: dapur gizi harus hidup dari hasil tanah dan laut masyarakat sendiri.

Menurutnya, hasil kebun petani dan tangkapan nelayan lokal harus menjadi bagian utama dalam rantai pasok kebutuhan pangan MBG. Dengan cara itu, manfaat program tidak hanya hadir di meja makan penerima, tetapi juga mengalir ke rumah-rumah warga yang menggantungkan hidup dari bertani dan melaut.

“Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan bahan pangan menjadi langkah strategis agar program MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi penerima manfaat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya bagi petani dan nelayan di Supiori,” ujar Fakhiri.

Dalam peninjauan tersebut, Fakhiri juga memberikan apresiasi terhadap kualitas pembangunan SPPG di Supiori. Ia menilai fasilitas yang dibangun memiliki konstruksi permanen dan menunjukkan kesiapan yang lebih matang dibanding sebagian besar dapur MBG di daerah lain yang masih menggunakan konstruksi baja ringan.

Baginya, infrastruktur yang kuat harus diikuti dengan sistem yang menghidupkan ekonomi lokal.

Fakhiri bahkan membuka harapan lebih jauh agar Supiori tidak sekadar menjadi pelaksana program, tetapi tampil sebagai daerah percontohan pembangunan dapur MBG di Papua. Sebuah model yang membuktikan bahwa pelayanan gizi bisa berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat.

“Dengan kesiapan infrastruktur yang terus dipacu, pemerintah berharap program MBG di Supiori dapat berjalan optimal sekaligus menjadi model pengembangan pelayanan gizi terpadu di daerah lain di Papua,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Supiori, Alfred Kapisa menjelaskan, saat ini terdapat 12 titik pembangunan SPPG di Supiori. Dari jumlah tersebut, sembilan titik berada di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Menurut Kapisa, lima titik telah rampung 100 persen, sementara sisanya berada pada progres pembangunan sekitar 60 hingga 70 persen. Seluruh pembangunan dimulai sejak Januari dan ditargetkan selesai pada Juli agar dapat segera beroperasi.

Program ini diproyeksikan melayani sekitar 13.205 penerima manfaat, mulai dari peserta didik tingkat PAUD hingga SMK, serta kelompok non-peserta didik seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Setiap dapur SPPG dirancang melayani hingga 2.000 penerima manfaat. Namun untuk kawasan 3T, kapasitas disesuaikan menjadi sekitar 1.000 orang agar distribusi tetap efektif dan menjangkau masyarakat secara merata.

Di Supiori, dapur yang dibangun bukan hanya untuk mengenyangkan hari ini. Ia sedang dipersiapkan menjadi ruang yang menyambungkan gizi, pekerjaan, dan masa depan.

Sem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *