
BIAK, Binkari — Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menegaskan pembangunan konektivitas di Kepulauan Numfor bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk memutus keterisolasian dan membuka ruang pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir.
Pesan itu disampaikan saat kunjungan kerja di Kampung Yenbepon, Kabupaten Biak Numfor, Kamis (21/5/2026), dengan menempatkan Numfor sebagai titik awal agenda kunjungannya.
“Saya minta lewat Barat sehingga tiba di Numfor, karena saya ingin datang pertama ke sini dulu, baru ke Biak,” ujar Fakhiri.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh berhenti pada program tanam atau peningkatan produksi semata. Tanpa akses transportasi yang memadai, hasil kerja masyarakat akan tetap tertahan di wilayah sendiri dan kehilangan nilai ekonomi.
“Kalau tanpa konektivitas, Numfor akan terus tertinggal. Tidak akan ada kemajuan,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Papua kini memprioritaskan penguatan jalur laut dan darat agar mobilitas masyarakat serta distribusi barang dari Numfor menuju Biak, Jayapura hingga Manokwari dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Fakhiri bahkan menggambarkan target besar yang ingin dicapai ke depan: masyarakat Numfor dapat mengakses Jayapura dalam satu hari dan kembali tanpa harus menghadapi keterbatasan transportasi seperti selama ini.
Ia juga menyoroti potensi ekonomi lokal yang selama ini belum berkembang optimal. Komoditas seperti kopra, kelapa, pala, sagu hingga hasil perikanan dinilai memiliki nilai jual tinggi, namun terhambat pada rantai distribusi.
“Tadi Wakil Bupati minta banyak hal, tanam kopra, tanam kedelai, bangun kampung nelayan. Tapi semua itu hanya tinggal kenangan kalau hasilnya tidak bisa dibawa keluar,” katanya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemprov Papua menyiapkan intervensi pembangunan jalan dan jembatan di Numfor, termasuk mendukung usulan pembangunan ruas jalan sepanjang 60 kilometer. Pemerintah juga menargetkan penyediaan kapal pengangkut hasil produksi masyarakat dan memperkuat jalur pelayaran antarpulau.
Bagi Fakhiri, ukuran keberhasilan pembangunan bukan pada panjang jalan yang dibangun, tetapi pada sejauh mana hasil nelayan dan petani dapat keluar dari pulau, masuk ke pasar, dan menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat.
“Semua hasil yang ditanam masyarakat harus bisa dijual ke mana-mana. Itu fokus saya, membangun konektivitas,” pungkasnya.
Sem

