Efisiensi Anggaran Tak Surutkan Semangat Bupati Michael Thungari Bangun Sangihe

Share

SANGIHE, Sulawesi Utara, Binkari – Di saat banyak daerah mulai mengerem laju pembangunan akibat kebijakan efisiensi anggaran, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe memilih untuk tidak larut dalam keterbatasan. Tekanan fiskal memang nyata, tetapi bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Bupati Sangihe Michael Thungari menghadapi situasi yang tidak mudah. Ruang anggaran yang menyempit menuntut ketelitian ekstra dalam menentukan prioritas. Tidak semua program bisa dijalankan, dan tidak semua keinginan publik dapat langsung dijawab.

Namun di titik inilah arah kepemimpinan diuji, apakah memilih aman dengan memperlambat langkah, atau tetap berjalan dengan strategi yang lebih tajam.

Pemerintah daerah tampak mengambil pilihan kedua. Sejumlah program difokuskan pada sektor yang paling menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti infrastruktur dasar yaitu GOR Membara, ruas jalan Lenganeng Bowongkulu (Lose), jembatan Tolendano, sumur Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di Kampung Kalekube dan lain-lain.

Serta layanan kesehatan, dan penguatan ekonomi lokal berupa perikanan, pariwisata, pertanian. Pendekatannya sederhana tetapi tegas yaitu mengurangi yang kurang berdampak, memperkuat yang benar-benar dibutuhkan.

Langkah ini menunjukkan bahwa efisiensi tidak selalu identik dengan pengurangan kinerja. Justru, dalam kondisi terbatas, kualitas perencanaan menjadi penentu. Setiap kebijakan harus memiliki arah yang jelas dan ukuran keberhasilan yang terukur.

Di lapangan, tantangan tetap ada. Harapan masyarakat Sangihe tidak ikut menyusut seiring anggaran yang dipangkas. Kritik dan tuntutan tetap mengalir, bahkan cenderung meningkat. Situasi ini menuntut komunikasi yang terbuka dan kehadiran pemerintah yang nyata, bukan sekadar administratif.

Bupati Sangihe bapak Thungari terlihat menjaga ritme tersebut. Dengan pendekatan yang lebih realistis, pemerintah berupaya memastikan bahwa pembangunan tetap berjalan, meski tidak secepat yang diharapkan semua pihak. Transparansi dan kolaborasi mulai didorong sebagai bagian dari strategi untuk menjaga kepercayaan publik.

Efisiensi anggaran pada akhirnya bukan sekadar soal penghematan, tetapi tentang keberanian menentukan pilihan. Di tengah keterbatasan, Pemerintah Kabupaten Sangihe sedang berupaya membuktikan bahwa pembangunan tidak harus berhenti, ia hanya perlu dijalankan dengan cara yang lebih cermat dan bertanggung jawab.

Asril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *