
BULUKUMBA, Binkari – Wahana hiburan “Dino Planet” yang beroperasi di dalam kompleks Pasar Sentral Bulukumba kini menjadi sorotan tajam. Sejumlah kejanggalan mencuat ke permukaan setelah awak media melakukan wawancara langsung dengan pihak pengelola di lapangan. Sabtu 25 April 2026.
Alih-alih memberikan penjelasan yang transparan, salah satu supervisor bernama Laras justru mengaku tidak mengetahui sejumlah hal krusial terkait operasional wahana tersebut. Mulai dari sewa lahan, mekanisme kerja sama, hingga standar keselamatan pengunjung semuanya disebut “tidak tahu” dan diarahkan ke kantor pusat.
Pernyataan ini memantik pertanyaan serius: bagaimana mungkin sebuah wahana yang memungut tiket dari masyarakat bisa berjalan tanpa pengawasan dan pemahaman dasar dari penanggung jawab di lokasi?
SOP KESELAMATAN DIPERTANYAKAN
Yang paling mengkhawatirkan adalah aspek keselamatan pengunjung. Saat ditanya terkait standar operasional prosedur (SOP) ketika terjadi insiden, pihak supervisor tidak mampu menjelaskan secara rinci.
Padahal, dalam prinsip penyelenggaraan usaha hiburan publik, aspek keselamatan adalah hal mutlak. Standar ini merujuk pada ketentuan umum dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang mewajibkan setiap pelaku usaha menjamin keamanan dan keselamatan wisatawan.
Lebih jauh, tidak ditemukan kejelasan apakah para karyawan di wahana tersebut memiliki sertifikasi atau pelatihan khusus dalam penanganan keadaan darurat. Fakta di lapangan justru menunjukkan tidak ada satu pun yang dapat membuktikan kepemilikan sertifikat tersebut.
SATWA DIPAMERKAN, IZIN KARANTINA TAK JELAS
Tak hanya wahana permainan, Dino Planet juga menampilkan beberapa satwa seperti ular dan burung hantu. Namun, saat ditanya terkait izin karantina dan legalitas satwa tersebut, jawaban yang diberikan kembali mengambang.
Padahal, penggunaan dan pemanfaatan satwa di ruang publik diatur ketat dalam regulasi seperti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, serta pengawasan oleh instansi terkait seperti Balai Karantina Hewan.
Ketidakjelasan ini membuka potensi pelanggaran serius, baik dari sisi kesejahteraan hewan maupun keselamatan pengunjung.
SEWA LAHAN & TRANSPARANSI DIPERTANYAKAN
Keberadaan wahana di dalam kompleks pasar juga menimbulkan tanda tanya besar. Saat dikonfirmasi, supervisor tidak mengetahui kepada siapa lahan disewa dan berapa nilai sewanya.
Hal ini memicu dugaan adanya ketidakterbukaan dalam pengelolaan aset daerah. Padahal, penggunaan fasilitas publik semestinya berada dalam pengawasan dan seizin resmi dari Pemerintah Kabupaten Bulukumba.
PERAN PEMERINTAH & APARAT DIPERTANYAKAN
Dengan berbagai kejanggalan tersebut, publik mulai mempertanyakan peran pengawasan dari pemerintah daerah serta aparat terkait.
Apakah wahana ini sudah melalui proses verifikasi kelayakan?
Apakah ada inspeksi rutin terhadap keselamatan pengunjung?
Dan jika ditemukan pelanggaran, mengapa masih tetap beroperasi?
Koordinasi dengan aparat seperti Polres Bulukumba dan instansi teknis lainnya dinilai penting untuk memastikan tidak ada pembiaran terhadap potensi pelanggaran.
PENUTUP: SINYAL KUAT UNTUK EVALUASI TOTAL
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi semua pihak. Wahana hiburan bukan sekadar tempat mencari keuntungan, tetapi juga menyangkut keselamatan publik.
Ketika pihak di lapangan tidak memahami dasar operasional, tidak mengetahui izin, dan tidak mampu menjelaskan SOP, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas usaha tetapi juga nyawa pengunjung.
Kini, publik menunggu langkah tegas dari pemerintah. Apakah akan dilakukan evaluasi menyeluruh, atau justru dibiarkan terus berjalan tanpa kejelasan?
Ada apa sebenarnya di balik operasional Dino Planet di Pasar Sentral Bulukumba?
Fadli

