
BITUNG, Binkari – Di tengah riuhnya arus informasi yang tak lagi mengenal batas, satu hal justru kian menguat: lidah manusia seringkali melampaui kebenaran itu sendiri. Pernyataan tajam ini dilontarkan Debby Sodanding yang dengan lugas menyoroti realitas sosial hari ini, Minggu 19 April 2026. Di mana prasangka berlari lebih cepat daripada fakta, dan opini kerap menggantikan akurasi.
Menurutnya, masyarakat kini dihadapkan pada krisis nalar. Informasi yang belum terverifikasi dengan mudah dikonsumsi, disebarkan, bahkan dipercaya tanpa proses uji kebenaran. Dalam situasi seperti ini, kata-kata tak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan bisa berubah menjadi senjata yang melukai tanpa jejak.
“Yang berbahaya bukan hanya kebohongan, tapi keyakinan atas sesuatu yang belum tentu benar,” tegas Debby. Ia menilai, banyak orang lebih tergoda pada sensasi daripada substansi. Judul bombastis, narasi emosional, hingga potongan informasi yang dipelintir, menjadi bahan bakar yang mempercepat laju prasangka di ruang publik.
Fenomena ini, lanjutnya, bukan sekadar persoalan etika berbicara, melainkan ancaman serius terhadap tatanan sosial. Ketika kebenaran harus bersaing dengan opini liar, maka yang terjadi adalah kaburnya batas antara fakta dan asumsi. Akibatnya, individu maupun institusi bisa menjadi korban dari penghakiman yang tidak berdasar.
Debby juga mengingatkan bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi. Dalam dunia yang serba terkoneksi, satu kalimat dapat menjalar luas, membentuk persepsi, bahkan merusak reputasi. Ironisnya, klarifikasi sering datang terlambat ketika kerusakan sudah terlanjur terjadi.
Di akhir pernyataannya, ia mengajak masyarakat untuk kembali pada prinsip dasar: berpikir sebelum berbicara, memverifikasi sebelum menyebarkan. Sebab, dalam pertarungan antara kebenaran dan prasangka, hanya keteguhan pada fakta yang mampu menjaga kewarasan publik.
Pesan Debby Sodanding ini menjadi tamparan keras bahwa di era kebebasan berbicara, tanggung jawab justru harus lebih besar. “Karena sejatinya, bukan kebenaran yang lemah, melainkan manusia yang terlalu cepat percaya pada apa yang ingin ia dengar.” Kunci Eby, sapaan akrab.
Asril

