
BANTAENG, Sulsel⚡Binkari – Tangis dan keluhan warga Kabupaten Bantaeng kian memuncak. Di tengah krisis distribusi air bersih yang belum kunjung pulih, polemik penolakan terhadap Suwardi untuk kembali menahkodai PDAM Tirta Eremerasa justru terus memanas dan memicu gelombang keresahan di tengah masyarakat.
Air yang seharusnya mengalir deras ke rumah-rumah warga kini hanya menjadi harapan. Sebagian masyarakat terpaksa menunggu pasokan dari mobil tangki PDAM yang berkeliling menyalurkan air bersih.
Namun upaya darurat itu dinilai belum mampu menjawab kebutuhan ribuan warga yang selama ini menggantungkan hidup pada aliran air melalui jaringan pipa.
Di tengah kondisi genting tersebut, aksi penolakan terhadap Suwardi kembali pecah, Sabtu (9/5/2026), di jalan poros Bantaeng tepat di depan Rumah Jabatan Bupati.
Sejumlah massa yang terdiri dari aliansi mendesak Bupati Bantaeng, M. Fathul Fauzi Nurdin, agar mencabut pengaktifan kembali Suwardi secara permanen.
Padahal, Suwardi diketahui telah resmi mengantongi Surat Keputusan Bupati untuk kembali aktif memimpin PDAM Tirta Eremerasa.
Ironisnya, di saat konflik internal terus berkecamuk, warga justru menilai pelayanan air bersih kembali terganggu. Mereka menilai polemik berkepanjangan itu telah mengorbankan hak dasar masyarakat.
“Jangan jadikan kami korban konflik. Kami tidak peduli siapa yang bertikai, yang kami butuhkan hanya air mengalir ke rumah,” teriak salah seorang warga dengan nada kecewa.
Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Mereka mengaku sempat merasakan perubahan signifikan selama Suwardi memimpin PDAM. Berbagai pembenahan jaringan pipa rusak dilakukan, pelayanan keluhan warga direspons cepat, bahkan Suwardi disebut kerap turun langsung ke lapangan memastikan persoalan air segera ditangani.
“Dulu saat beliau aktif, kalau ada masalah air langsung ditindaklanjuti. Beliau turun sendiri cek kondisi pipa. Itu yang kami rasakan,” ungkap seorang warga.
Bahkan, menurut informasi yang dihimpun, Suwardi telah bergerak cepat menemui pihak BBWS Pompengan Jeneberang Makassar guna mempercepat penanganan pipa induk yang putus akibat banjir di Eremerasa—langkah yang dinilai warga sebagai bukti keseriusannya memulihkan pelayanan air bersih.
Kini, masyarakat hanya berharap konflik ini segera diakhiri. Mereka mendesak semua pihak berhenti mempertontonkan kegaduhan dan fokus pada satu hal yang paling mendesak: mengembalikan hak warga atas air bersih.
“Kalau terus begini, rakyat yang sengsara. Hentikan drama ini, biarkan yang mau bekerja, bekerja untuk rakyat,” tutup warga dengan nada geram.
Bang Jul

