Tim lll Pasus Satpol PP Manado Menyelamatkan Jiwa, Menyelamatkan Harapan

Share

MANADO, Binkari – Di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur, masih ada suara-suara lirih yang sering luput dari perhatian. Ada warga yang dilanda keresahan, ada jiwa yang membutuhkan pertolongan, dan ada seorang anak yang kehilangan arah. Namun, ketika laporan masyarakat datang, Tim III Pasukan Khusus (Pasus) Satpol PP Kota Manado memilih bergerak, bukan sekadar menyaksikan.

Minggu itu menjadi saksi bahwa tugas aparat bukan hanya menegakkan aturan, tetapi juga menjaga kemanusiaan. Dalam dua peristiwa berbeda, Tim III Pasus menunjukkan bahwa seragam bukan sekadar simbol kewenangan, melainkan amanah untuk melindungi mereka yang paling membutuhkan.

Laporan pertama datang dari warga yang merasa terganggu oleh keberadaan seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Situasi yang berpotensi menimbulkan keresahan tidak disikapi dengan kekerasan ataupun stigma. Sebaliknya, personel Satpol PP memilih jalan yang lebih bermartabat: pendekatan persuasif, tenang, dan penuh empati.

Tanpa menimbulkan kegaduhan, petugas berhasil mengevakuasi yang bersangkutan dengan aman. Selanjutnya, ODGJ tersebut dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Ratumbuysang untuk mendapatkan pemeriksaan serta penanganan medis sesuai prosedur yang berlaku. Sebuah langkah yang menegaskan bahwa setiap manusia berhak memperoleh perlindungan, bukan penghakiman.

Belum usai menjalankan misi pertama, Tim III Pasus kembali menerima laporan dari Polresta Manado mengenai seorang anak yang ditemukan dalam kondisi tersesat. Waktu menjadi faktor yang tak bisa ditawar. Keselamatan anak adalah prioritas yang tak mengenal kompromi.

Koordinasi cepat dilakukan bersama Dinas Sosial Kota Manado. Anak tersebut kemudian dibawa ke Shelter Anak Panti Asuhan Rapi Bailang agar memperoleh tempat yang aman, pendampingan, serta perlindungan sementara hingga keluarga atau pihak yang bertanggung jawab berhasil ditemukan.

Dua kejadian dalam satu hari itu menjadi cermin bahwa pengabdian tidak selalu diukur dari kerasnya tindakan, melainkan dari kecepatan hadir saat masyarakat membutuhkan uluran tangan. Ketika sebagian orang hanya melihat persoalan, Tim III Pasus memilih menjadi bagian dari solusi.

Peran Satpol PP hari ini telah melampaui stigma sebagai aparat penegak Peraturan Daerah semata. Di balik tugas menjaga ketertiban umum, mereka juga memikul tanggung jawab sosial untuk memastikan tidak ada warga yang dibiarkan menghadapi kesulitannya seorang diri. Sinergi bersama Polresta Manado, Dinas Sosial, serta tenaga kesehatan menjadi bukti bahwa pelayanan publik hanya akan kuat ketika dibangun melalui kolaborasi.

Kota yang besar bukan hanya diukur dari megahnya gedung atau ramainya jalan, tetapi dari seberapa cepat negara hadir ketika rakyatnya membutuhkan pertolongan. Di situlah Tim III Pasus Satpol PP Kota Manado menulis makna pengabdian yang sesungguhnya: menjaga ketenteraman tanpa kehilangan rasa kemanusiaan, menegakkan aturan tanpa menanggalkan empati.

Sebab pada akhirnya, ketertiban adalah wajah hukum, tetapi kemanusiaan adalah jantung yang membuatnya tetap hidup.

Humas ReeaRay

Penulis Sunny

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *