Laut Boleh Bergelora, Hati Tak Pernah Gentar, Kisah Perawat Boi Sumonda Mengabdi 18 Tahun di Marore

Share

TAHUNA, Binkari – Di balik deru ombak yang memisahkan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Sangihe, ada sosok-sosok yang setia menjaga kehidupan. Mereka bukan hanya bekerja, tetapi mengabdikan hati. Salah satunya adalah Boi Sumonda, Amd.Kep, yang telah menghabiskan 18 tahun sebagai tenaga kesehatan di wilayah perbatasan Indonesia.

Bagi Boi, delapan belas tahun bukan sekadar hitungan masa kerja. Itu adalah perjalanan panjang yang dipenuhi tantangan, pengorbanan, dan ketulusan melayani masyarakat yang hidup jauh dari pusat layanan kesehatan.

“Delapan belas tahun bukan waktu yang sedikit. Tapi saya bersyukur semua bisa dijalani, meski harus menghadapi berbagai tantangan,” ungkapnya.

Mengabdi di wilayah kepulauan bukan perkara mudah. Cuaca yang kerap berubah, gelombang laut yang tinggi, keterbatasan transportasi, hingga minimnya fasilitas kesehatan menjadi bagian dari keseharian yang harus dihadapi. Namun, semua itu tak pernah memadamkan semangatnya.

Menurutnya, ketika pekerjaan dijalani dengan tulus dan penuh cinta, setiap pengorbanan akan menghadirkan kepuasan batin yang tak dapat diukur dengan materi.

“Kalau pekerjaan ini dijalani dengan tulus dan kita mencintainya, akan ada kepuasan dan kebanggaan tersendiri,” tuturnya.

Di balik kisah pengabdiannya, Boi menyimpan harapan besar bagi masa depan pelayanan kesehatan di Kepulauan Sangihe. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada tenaga kesehatan, baik dari sisi kesejahteraan maupun dukungan fasilitas kerja.

Ia juga menilai penambahan tenaga kesehatan menjadi kebutuhan mendesak, mengingat luasnya wilayah kepulauan dan jauhnya akses menuju daratan utama. Dalam kondisi cuaca buruk, pasien sering kali tidak dapat segera dirujuk, sehingga pelayanan harus mampu dilakukan secara maksimal di fasilitas kesehatan setempat.

“Harapan saya, tenaga kesehatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe lebih diperhatikan. Fasilitas kesehatan perlu dilengkapi, personel juga perlu ditambah agar penanganan pasien bisa dilakukan di tempat, terutama saat cuaca tidak bersahabat dan transportasi terbatas,” ujarnya.

Di perbatasan negeri, pengabdian memang sering berjalan dalam sunyi. Namun dari tangan-tangan para tenaga kesehatan seperti Boi Sumonda, harapan masyarakat tetap menyala. Sebab bagi mereka, menjaga kehidupan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati yang terus hidup, bahkan ketika ombak dan jarak menjadi ujian setiap hari.

Gambatte Asril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *