
SUPIORI, Binkari — Ancaman longsor dan abrasi yang menghantam Kabupaten Supiori mendapat respons cepat dari Gubernur Papua Matius D. Fakhiri. Tidak menunggu laporan di atas meja, Fakhiri turun langsung meninjau titik terdampak untuk memastikan penanganan dilakukan cepat, terukur, dan menyentuh kebutuhan warga.
Jumat (22/5/2026), Gubernur meninjau kondisi jalan raya Korido di Kampung Ramadori yang mengalami longsor, sekaligus melihat langsung dampak abrasi pantai di Yendoker, Distrik Supiori Timur.
Kunjungan tersebut menjadi penegasan bahwa persoalan infrastruktur dan ancaman bencana tidak bisa ditunda, terlebih ketika menyangkut akses hidup masyarakat dan keselamatan kawasan permukiman.
Di Kampung Ramadori, Fakhiri menyaksikan langsung kerusakan jalan yang terdampak longsor sejak akhir tahun 2025. Jalur tersebut bukan sekadar infrastruktur penghubung, tetapi urat nadi aktivitas warga dan distribusi kebutuhan masyarakat.
“Pemprov Papua akan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan instansi terkait untuk mempercepat perbaikan jalan serta mencegah terjadinya longsor susulan,” tegas Fakhiri.
Tak berhenti di titik longsor, perhatian gubernur berlanjut ke pesisir Yendoker yang kini menghadapi tekanan abrasi yang semakin mengkhawatirkan.
Garis pantai yang terus terkikis disebut telah mendekati kawasan permukiman dan fasilitas umum. Jika tidak segera diintervensi, ancaman kehilangan ruang hidup warga menjadi semakin nyata.
“Abrasi di kawasan ini sudah mengancam rumah warga dan fasilitas umum sehingga harus segera ditangani,” ujar Fakhiri.
Untuk langkah konkret, Pemerintah Provinsi Papua mendorong kajian teknis menyeluruh sebagai dasar penanganan, mulai dari pembangunan pelindung pantai hingga skema mitigasi jangka panjang agar kerusakan tidak terus meluas.
Bagi masyarakat Supiori, yang dibutuhkan bukan hanya perhatian, tetapi percepatan tindakan. Jalan yang kembali terhubung dan pesisir yang terlindungi menjadi harapan agar aktivitas warga pulih dan masa depan kawasan tetap terjaga.
Di tengah ancaman alam yang terus bergerak, pesan yang dibawa dari kunjungan itu jelas: negara harus hadir sebelum kerusakan mengambil lebih banyak ruang hidup masyarakat.
Sem

