Cantik, Lembut, Di Balik Itu Ada Jiwa Kesatria, Juara Tinju Momo Prayshe Darenoh

Share

 

SANGIHE, Binkari – Wajahnya tenang, sorot matanya lembut. Namun ketika lonceng ronde berbunyi, Molces Momo Prayshe Darenoh berubah menjadi petarung sejati. Di balik citra anggun yang melekat, tersembunyi jiwa kesatria yang tak mudah runtuh dan itulah yang mengantarkannya berdiri sebagai juara 3 di arena tinju piala Bupati Sangihe 2026.

Di tanah Sangihe, kisah seperti ini bukan sekadar kebetulan. Daerah perbatasan ini sejak lama dikenal melahirkan karakter-karakter tangguh, mereka yang ditempa oleh kerasnya kehidupan pesisir, oleh gelombang yang tak pernah kompromi, dan oleh realitas yang menuntut keberanian sejak dini. Molces adalah bagian dari mata rantai sejarah itu, dibawah naungan Sasana Malahasa Boxing Camp. Coach, R Sulgena, Tomi Sulegena, Nani Riko, Asper Tatengkeng.

Namun yang membuatnya berbeda adalah kontras yang ia bawa ke atas ring. Ia tidak datang dengan aura garang yang dibuat-buat. Justru ketenangannya menjadi senjata. Pukulan yang dilepaskan bukan sekadar tenaga, tetapi hasil dari latihan disiplin dan kontrol emosi yang terjaga. Dalam setiap gerakannya, ada pesan tegas: kekuatan tidak selalu harus berisik.

Pada laga penentuan, Molces tampil dengan strategi matang. Ia membaca ritme lawan, menjaga jarak, lalu menyerang di momen yang tepat. Tidak terburu-buru, tidak panik. Sebuah penampilan yang menunjukkan kedewasaan bertanding, sesuatu yang hanya lahir dari proses panjang dan tempaan berlapis.

Gelar juara yang diraihnya bukan hanya kemenangan individu. Ini adalah simbol bahwa perempuan di dunia tinju tidak lagi berdiri di bayang-bayang. Mereka hadir dengan kapasitas, dengan kualitas, dan dengan mental juara yang setara bahkan sering kali lebih tahan uji.

Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya sorotan terhadap tinju putri, Molces Momo Prayshe Darenoh yang sedang mengenyam pendidikan di Sekolah di SDN 2 Tahuna Kelas 6 ini justru muncul sebagai penegasan. Bahwa dari ruang-ruang latihan sederhana, dari keringat yang jatuh tanpa kamera, lahir atlet dengan standar tinggi.

Kemenangannya juga menjadi pengingat bahwa olahraga bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal karakter. Di balik kelembutan yang ia tunjukkan di luar ring, ada disiplin, ada keteguhan, dan ada keberanian untuk berdiri menghadapi siapa pun.

Kini, nama Molces mulai diperbincangkan lebih luas. Bukan karena sensasi, tetapi karena kualitas yang tak terbantahkan. Ia telah membuktikan bahwa menjadi kuat tidak harus kehilangan kelembutan dan menjadi lembut bukan berarti lemah.

Bupati Kabupaten kepulauan Sangihe Michael Thungari mengapresiasi petinju cilik tersebut. “Dari Sangihe, satu lagi cerita lahir. Cerita tentang seorang perempuan yang tidak hanya menang di arena ring, tetapi juga mengubah cara pandang bahwa di balik ketenangan, bisa bersemayam jiwa kesatria yang tak tergoyahkan.” Bupati menyempatkan diri berpose dengan adik Molces, sembari menyemangati generasi tinju putri ini.

Gambatte Asril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *