
Manokwari, Binkari — Malam Kamis, 23 April 2026, menjadi saksi sebuah peristiwa religius yang tak sekadar seremoni. Tepat pukul 20.58 WIT hingga 23.23 WIT, Lapangan Pondok Pesantren Futuhiyah, Jalur 1, Kampung Manokwari, Provinsi Papua Barat, dipenuhi gelombang manusia dalam kegiatan pengajian umum memperingati hari lahir ke-5 ponpes tersebut.
Acara ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjelma menjadi panggung kebersamaan, spiritualitas, dan kekuatan sosial yang menyatu dalam satu tarikan napas panjang umat. Dengan hadirnya pengamanan TNI POLRI, pengajian berjalan lancar penuh hikmat.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh penting yang memberi bobot tersendiri pada acara. Wakil Bupati Manokwari, Mugiyono, S.Hut., M.Ling, tampil sebagai representasi pemerintah daerah.
Ketua DPRD Kabupaten Manokwari, Joni Muid, S.T, turut menunjukkan dukungan legislatif. Dari Fraksi PKS, Syamsul Hadi, S.Pd hadir mempertegas keberpihakan pada kegiatan keagamaan.
Dari unsur TNI, Danramil Warmare Kapten Inf. Prapto Widodo hadir mewakili Dandim 1801 Manokwari, sementara dari kepolisian, Wakapolsek Prafi Iptu Ismail mewakili Kapolresta Manokwari. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan simbol soliditas negara dalam menjaga denyut kehidupan masyarakat.

Tak hanya pejabat, tokoh-tokoh pemerintah Kampung Aimasi, Distrik Aimasi, juga ambil bagian. Mereka berdiri sejajar dengan masyarakat, menghapus sekat antara pemimpin dan yang dipimpin.
Tepat pukul 20.59 WIT, suasana hening sejenak. Lagu Indonesia Raya berkumandang, menggetarkan dada ribuan jamaah yang hadir. Sekitar 2.000 orang memadati lokasi, menciptakan lautan manusia yang penuh khidmat.
Pengamanan berlangsung tanpa celah. TNI dan POLRI bersinergi, tak memberi ruang bagi gangguan sekecil apa pun. Karang Taruna dan Banser turut ambil peran, menjadi garda terdepan dalam memastikan kegiatan berjalan tertib dan aman. Ini bukan hanya soal keamanan, tetapi tentang tanggung jawab kolektif menjaga kehormatan acara.
Pengajian ini menjadi bukti bahwa Pondok Pesantren Futuhiyah bukan sekadar lembaga pendidikan. Ia telah tumbuh menjadi pusat peradaban kecil yang menyatukan umat, memperkuat nilai, dan menegaskan eksistensi di tengah dinamika zaman.
Di bawah langit Aimasi yang tenang, gema doa dan tausiyah mengalir deras. Bukan hanya sebagai ungkapan syukur atas usia lima tahun, tetapi juga sebagai penegasan: Futuhiyah hadir, bertahan, dan terus melangkah.
Junardi Pandermol

