
Manado, Binkari – Gelombang solidaritas insan pers yang memadati Mapolda Sulut, Senin (11/5/2026), tak hanya diisi orasi para jurnalis. Di tengah lautan spanduk dan teriakan “Kebebasan Pers Harga Mati”, sosok Yuni Wahyuni, aktivis perempuan yang akrab disapa Srikandi, tampil membakar semangat massa. Dengan suara lantang menembus riuh, ia mengingatkan bahwa kasus dugaan pemukulan terhadap wartawan senior Jackson Latjandu bukanlah kali pertama dan harus menjadi yang terakhir.
“Saudara kami Jackson dilukai saat menjalankan tugas suci jurnalistik. Sebagai perempuan, sebagai aktivis, saya tidak akan tinggal diam! Jangan sampai peristiwa ini berulang pada siapa pun!” teriak Yuni dari atas panggung dadakan. Ucapannya sontak disambut gemuruh tepuk tangan dan siulan dari ratusan wartawan yang hadir. Matanya berkaca-kaca, namun semangatnya tak surut, menggambarkan bagaimana kekerasan terhadap pers juga menyentuh sisi kemanusiaan yang paling dalam.
Yuni menegaskan, intimidasi dan pemukulan terhadap wartawan adalah “luka yang menganga” bagi demokrasi Sulawesi Utara. Ia mengaku tidak rela melihat rekan-rekan jurnalis, yang kerap menjadi ujung tombak kebenaran, justru menjadi sasaran amuk oknum berkuasa. “Kami perempuan biasa memikul beban ganda. Tapi untuk kebebasan pers, kami siap berbaris di garda terdepan. Jangan coba-coba sentuh wartawan, karena kami akan bangkit bersama!”
Aksi damai yang berlangsung tertib itu juga menjadi panggung bagi Yuni untuk melontarkan tuntutan tegas: proses hukum terhadap terlapor berinisial R.M. harus transparan dan tidak mandek. Ia menyoroti dua kali panggilan pemeriksaan yang tak dipenuhi. “Hukum jangan tumpul ke atas, tajam ke bawah. Ini ujian nyata bagi kepolisian. Panggilan ketiga harus dipaksakan, kalau perlu jemput paksa!” serunya disambut yel-yel setuju dari massa.
Di hadapan Kapolda Sulut Roycke Harry Langie yang turun menemui demonstran, Yuni tak sekadar menyampaikan tuntutan normatif. Dengan mikrofon bergantian, ia mengingatkan bahwa perlindungan terhadap wartawan adalah harga mati. “Pak Kapolda, kami dengar janji Bapak. Tapi kami ingin bukti. Jangan sampai besok atau lusa ada lagi Jackson baru. Kami ibu-ibu, kami aktivis, akan terus memantau. Anggap saja kami mata dan hati yang tak pernah tidur,” ujarnya tegas.
Para demonstran lainnya bergantian berorasi, namun fokus tetap pada pesan Yuni: “Jangan ulangi sejarah kelam.” Salah seorang jurnalis senior yang hadir mengakui bahwa suara perempuan seperti Yuni memberi warna berbeda, lebih emosional namun mengena. “Beliau bukan wartawan, tapi rela berjuang untuk kami. Itu artinya, kekerasan terhadap pers adalah musuh bersama seluruh warga,” ujarnya di sela-sela aksi.
Setelah dialog berakhir dan Kapolda berkomitmen mengawal kasus, Yuni masih menyempatkan diri berfoto bersama spanduk bertuliskan “Wartawan Bukan Musuh”. Dengan napas tersengal karena emosi, ia berpesan kepada seluruh insan pers: “Jangan pernah takut. Kalian tidak sendirian. Setiap kali ada yang berani memukul wartawan, akan ada ribuan Yuni Wahyuni yang bangkit. Kita kawal kasus ini sampai tuntas, agar pemukulan terhadap Jackson adalah yang terakhir di tanah Nyiur Melambai.”
Aksi damai bubar sekitar pukul 14.00 Wita, namun pesan Yuni Wahyuni Srikandi tetap menggema di lorong-lorong Mapolda dan hati para jurnalis. Publik kini menanti langkah konkret aparat. Satu hal yang pasti: solidaritas pers kali ini diperkuat oleh suara perempuan yang tidak akan pernah diam, sampai keadilan benar-benar ditegakkan.
Sunny

