SEMANJA, KAYONG UTARA, KALIMANTAN BARAT — BINKARI — Tradisi adat dan budaya kembali menggema di Dusun Semanja, Desa Benawai Agung, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Ritual adat dalam rangka memperingati ulang tahun Pangalima Pamang kembali dilaksanakan pada Sabtu, 26 September 2026.
Kegiatan yang digelar setiap tahun di kediaman Pak Acun tersebut menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Ritual ini juga memperlihatkan adanya perpaduan unsur budaya Dayak dan Tionghoa yang selama ini hidup berdampingan di tengah masyarakat Kayong Utara.
Pelaksanaan ritual dihadiri sejumlah tokoh masyarakat adat Dayak, tokoh masyarakat Tionghoa, serta warga dari berbagai kalangan. Kehadiran masyarakat tersebut menunjukkan bahwa kegiatan adat dan budaya masih mendapat perhatian dalam kehidupan sosial masyarakat setempat.
Berdasarkan pantauan dan keterangan yang dihimpun awak media di lapangan, ritual tahunan tersebut telah dikenal oleh masyarakat di Kabupaten Kayong Utara. Kegiatan ini tidak hanya dipandang sebagai sebuah acara seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenalkan serta mempertahankan nilai-nilai tradisi lokal kepada generasi berikutnya.
TRADISI LOKAL DI TENGAH PERUBAHAN ZAMAN
Pelestarian budaya menjadi salah satu perhatian penting dalam kegiatan tersebut. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun dinilai memiliki nilai sejarah dan identitas bagi masyarakat yang menjalaninya.
Perjumpaan unsur budaya Dayak dan Tionghoa dalam kegiatan tersebut juga menjadi gambaran kehidupan sosial masyarakat Kayong Utara yang memiliki keberagaman latar belakang budaya.
Masyarakat yang hadir memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan ritual adat yang berlangsung di Dusun Semanja. Selama kegiatan, suasana disebut berjalan dengan baik dan aman.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa perkembangan zaman tidak harus menghilangkan akar budaya lokal.
“Salam adat budaya untuk seluruh pengurus adat Dayak Kayong Utara dan pengurus adat budaya Tionghoa yang ada di Kayong Utara. Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan adat budaya yang ada di Kalimantan Barat.”
Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata.
Arus…! Arus…! Arus…!
Sumber: Masyarakat dan Investigasi
Editor: BINKARI KALBAR

