
SANGIHE⚡Binkari — Riak politik di Kabupaten Kepulauan Sangihe di bulan Mey 2026 ini mulai memperlihatkan gelombang yang tak lagi kecil. Di balik isu pergantian Ketua DPRD sekaligus Ketua DPC PDIP Sangihe dan dinamika internal partai politik, tersimpan pertarungan kepentingan elite yang kini kian terbuka ke permukaan.
Publik perlahan membaca bahwa pergantian jabatan strategis bukan sekadar agenda organisasi atau mekanisme politik biasa. Ada aroma tarik-menarik pengaruh, perebutan kendali, hingga upaya memperkuat dominasi kelompok tertentu menjelang konstelasi politik berikutnya.
Di tengah situasi itu, posisi Ketua Dewan menjadi sangat strategis. Jabatan tersebut bukan hanya simbol kekuasaan legislatif, tetapi juga pintu pengaruh terhadap arah kebijakan politik daerah. Karena itu, setiap manuver pergantian selalu menyimpan makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar rotasi jabatan.
Sumber-sumber politik menyebut, dinamika ini tidak berdiri sendiri. Pergeseran di tubuh partai disebut-sebut ikut memengaruhi arah pertarungan. Relasi antar elite mulai mengalami retakan, sementara loyalitas kader diuji di tengah tekanan kepentingan yang saling bertabrakan.
“Yang terjadi sekarang bukan hanya soal kursi Ketua Dewan. Ini soal siapa yang akan memegang kendali politik ke depan,” ungkap salah satu pengamat politik lokal, enggan namanya di sebut.
Tarik-menarik kepentingan itu semakin terasa ketika isu pergantian mulai dihubungkan dengan manuver elite partai. Ada kelompok yang mendorong perubahan dengan alasan penyegaran organisasi, namun ada pula yang melihatnya sebagai upaya sistematis menyingkirkan figur yang dianggap tidak lagi berada dalam garis kepentingan tertentu.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran publik. Politik yang seharusnya menjadi ruang pengabdian mulai terlihat berubah menjadi arena perebutan pengaruh. Kepentingan rakyat perlahan tenggelam di tengah pertarungan elite yang sibuk menghitung kekuatan masing-masing.
Di akar rumput, Masyarakat mulai mempertanyakan arah demokrasi lokal. Sebab ketika energi politik habis untuk konflik internal dan perebutan posisi, maka pelayanan publik, pembangunan, dan stabilitas pemerintahan berpotensi menjadi korban.
Sangihe kini sedang berada di persimpangan penting. Apakah dinamika ini akan melahirkan konsolidasi politik yang sehat, atau justru membuka babak baru pertarungan elite yang penuh intrik dan dendam kekuasaan.
Karena dalam politik, pergantian jabatan mungkin hal biasa. Namun ketika di baliknya tersimpan kepentingan besar dan permainan pengaruh, maka yang lahir bukan sekadar pergantian kursi, melainkan perang senyap perebutan kendali.
Kata diakhiri, Selamat bertugas ketua dewan baru bapak Denny Roy Tampi, S.E. Terimakasih bapak Ferdy Sondakh, S.E, atas pengabdiannya untuk Sangihe.
Gambatte Asril

