Pemprov Papua Perkuat Produktivitas dan Hilirisasi Kopi

Share

Jayapura, Binkari – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua bersama Bank Indonesia (BI) terus memperkuat pengembangan komoditas kopi melalui peningkatan produktivitas, kualitas, hilirisasi, dan perluasan akses pasar guna meningkatkan nilai tambah serta kesejahteraan petani dan pelaku usaha.

 

Asisten Bidang Umum dan Administrasi Sekretariat Daerah Papua Suzana Wanggai di Jayapura, Senin (10/8/2026), mengatakan pengembangan kopi Papua harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam ekosistem perkopian.

“Setelah penutupan Festival Kopi (Feskop) Papua 2026 pada Minggu (9/8), harus ada keberlanjutan melalui peningkatan produktivitas, inovasi, hilirisasi dan perluasan akses pasar,” katanya.

Menurut Suzana, pelaksanaan Feskop Papua 2026 tidak hanya menjadi ajang promosi produk kopi lokal, tetapi juga momentum untuk memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam mengembangkan potensi kopi Papua.

Ia mengatakan peningkatan produktivitas dan kualitas menjadi bagian penting dalam pengembangan komoditas tersebut. Upaya itu perlu didukung dengan inovasi dan pengembangan produk turunan agar kopi Papua memiliki nilai tambah yang lebih besar.

“Pengembangan kopi Papua tidak dapat dilakukan sendiri. Semua pihak harus bersama-sama agar kopi Papua dapat terus berkembang dan dikenal secara lebih luas serta berkelanjutan,” ujarnya.

Suzana menilai keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan hingga komunitas, diperlukan untuk membangun ekosistem perkopian yang mampu menjawab tantangan produksi sekaligus membuka peluang pasar.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan BI Papua Warsono mengatakan Feskop Papua 2026 merupakan salah satu program strategis dalam mendukung pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kopi yang menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

“Feskop menjadi ruang perjumpaan dan kolaborasi bagi seluruh ekosistem kopi Papua, mulai dari petani, pelaku UMKM, roaster, barista, komunitas, lembaga keuangan, pemerintah hingga masyarakat sebagai konsumen,” katanya.

Warsono menjelaskan pelaksanaan Feskop selama tiga hari memberikan kesempatan kepada petani dan pelaku usaha kopi untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas.

Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku dalam rantai usaha kopi sehingga tercipta peluang kolaborasi dan pengembangan usaha.

“Melalui kegiatan tersebut, pelaku usaha dan petani diharapkan memperoleh peluang baru untuk memperluas pasar serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor perkopian,” ujarnya.

Ia menambahkan penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun industri kopi Papua yang berdaya saing. Dengan dukungan inovasi, hilirisasi, akses pembiayaan, dan perluasan pasar, komoditas kopi diharapkan mampu memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap perekonomian daerah.

Pemprov Papua dan BI berkomitmen melanjutkan sinergi tersebut sehingga momentum Feskop 2026 tidak berhenti pada kegiatan promosi, tetapi menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat rantai nilai kopi Papua dari hulu hingga hilir.

Sem

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *