
POLRES Sangihe, Binkari — Ketika bumi mengguncang perbatasan pada 8 Juni 2026, bukan hanya rumah dan bangunan yang retak. Di Kawio, Matutuang, dan Marore, tiga pulau yang berdiri di beranda paling utara Indonesia ketakutan sempat menyelimuti hati warga. Namun di tengah kecemasan itu, secercah harapan datang menyeberangi lautan.
Pada 12 Juni 2026, Kapolres Kepulauan Sangihe, AKBP Abdul Kholik, S.H., S.I.K., M.A.P, menunjukkan bahwa kehadiran negara tidak berhenti di pusat kota. Menembus ombak dan jarak yang memisahkan, bantuan kemanusiaan disalurkan kepada masyarakat di wilayah perbatasan yang terdampak gempa bumi.

Bantuan itu bukan semata-mata berisi kebutuhan pokok. Di balik setiap paket yang diserahkan, tersimpan pesan bahwa masyarakat perbatasan tidak sendiri menghadapi cobaan. Bahwa sejauh apa pun letak sebuah pulau, denyut kemanusiaan tetap mampu menjangkaunya.
Di negeri kepulauan seperti Sangihe, perjalanan menuju Kawio, Matutuang, dan Marore bukanlah tugas ringan. Laut yang luas, cuaca yang tak selalu bersahabat, serta keterbatasan akses menjadi tantangan nyata. Namun pengabdian tak pernah menghitung sulitnya perjalanan. Ia hanya mengenal satu arah, yaitu hadir bagi rakyat yang membutuhkan.

Langkah kemanusiaan ini menjadi pengingat bahwa kekuatan seorang pemimpin bukan hanya diukur dari ketegasan menegakkan hukum, tetapi juga dari kepeduliannya mengulurkan tangan ketika masyarakat sedang terluka.
Semoga bantuan ini mampu meringankan beban warga sekaligus membangkitkan semangat untuk kembali berdiri. Sebab setelah bumi berhenti berguncang, yang paling dibutuhkan adalah keyakinan bahwa harapan masih hidup, dan negara tetap hadir menjaga setiap jengkal tanah air hingga ke pulau-pulau paling depan Indonesia.
Asril

