‎

Pemprov Papua Dorong Border Trade Fair Jadi Pintu Ekspansi Pasar UMKM ke PNG

Share

JAYAPURA, Binkari – Pemerintah Provinsi Papua mendorong pelaksanaan *Border Trade Fair* (BTF) berlanjut dan dikembangkan sebagai sarana memperluas pasar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperkuat kerja sama perdagangan lintas batas antara Indonesia dan Papua Nugini (PNG).

Asisten Sekretaris Daerah Papua Bidang Administrasi Umum Suzana D. Wanggai mengatakan, BTF memiliki potensi strategis untuk meningkatkan interaksi ekonomi masyarakat kedua negara serta membuka peluang perdagangan dan investasi di kawasan perbatasan.

Hal itu disampaikan Suzana saat menutup BTF 2026 di kawasan perbatasan Skouw, Kota Jayapura, Sabtu (10/10). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut mempertemukan masyarakat dan pelaku usaha dari Indonesia dan PNG.

“BTF tidak boleh berhenti sampai di sini, tetapi harus terus dikembangkan, baik dari segi kualitas penyelenggaraan maupun skala partisipasinya. Saya juga menyambut baik rencana pelaksanaan BTF tahun depan di Vanimo, Papua Nugini,” kata Suzana.

Menurut dia, keberlanjutan BTF diperlukan agar kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk unggulan daerah, tetapi juga berkembang menjadi ruang bisnis yang mampu mempertemukan pelaku UMKM dengan calon pembeli, mitra usaha, dan investor dari kedua negara.

Melalui kegiatan tersebut, produk lokal Papua diharapkan memperoleh kesempatan lebih luas untuk dikenal dan dipasarkan di luar wilayah Indonesia, khususnya di pasar Papua Nugini yang memiliki kedekatan geografis dengan wilayah Papua.

Perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi.

Suzana menegaskan, kawasan perbatasan memiliki posisi penting dalam memperkuat konektivitas ekonomi, meningkatkan aktivitas perdagangan, dan menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.

Karena itu, kawasan perbatasan perlu dikembangkan sebagai ruang interaksi ekonomi yang produktif, bukan semata-mata dipandang sebagai garis pemisah antara dua negara.

“Kawasan perbatasan harus kita pandang bukan sekadar sebagai garis pemisah wilayah negara, melainkan sebagai ruang strategis untuk membangun konektivitas, memperluas interaksi masyarakat, meningkatkan aktivitas ekonomi, serta menciptakan peluang usaha baru,” ujarnya.

Ia menilai, pengembangan perdagangan lintas batas perlu didukung oleh penyelenggaraan kegiatan yang berkelanjutan, peningkatan kualitas produk, serta keterlibatan lebih luas dari pelaku usaha dan pemangku kepentingan terkait.

Dengan demikian, BTF diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih nyata bagi UMKM, termasuk melalui perluasan jejaring usaha dan terbukanya akses ke pasar lintas negara.

Perkuat kolaborasi lintas negara

Pemerintah Provinsi Papua berkomitmen memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, Pemerintah Papua Nugini, pemerintah kabupaten dan kota, dunia usaha, pelaku UMKM, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung pengembangan kerja sama perdagangan tersebut.

Kolaborasi itu dinilai penting untuk memastikan BTF tidak berhenti sebagai kegiatan promosi tahunan, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkuat perekonomian masyarakat di kawasan perbatasan.

Rencana penyelenggaraan BTF 2027 di Vanimo, Papua Nugini, menjadi peluang untuk memperluas partisipasi pelaku usaha dan mempererat hubungan ekonomi masyarakat kedua negara.

Pemprov Papua berharap keberlanjutan kegiatan tersebut dapat mendorong produk UMKM lokal semakin dikenal, memperluas akses pasar, serta menjadikan kawasan perbatasan Skouw–Vanimo sebagai salah satu ruang pengembangan perdagangan dan kerja sama ekonomi Indonesia–Papua Nugini.

Sem Gombo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *