
BULUKUMBA, Binkari — Di balik dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bulukumba, lantunan qasidah terdengar merdu dan menggetarkan hati. Bukan sekadar irama seni, suara-suara itu menjadi bagian dari ikhtiar pembinaan, dakwah, dan perjalanan spiritual Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menuju perubahan yang lebih baik.
Pada Rabu, 26 Agustus 2026, suasana ruang kegiatan pembinaan Lapas Kelas IIA Bulukumba terasa berbeda. Warga binaan mengenakan busana muslim serba putih, duduk dengan tertib, kemudian melantunkan syair-syair qasidah bertema pujian kepada Allah SWT, cinta kepada Rasulullah SAW, pertobatan, dan harapan untuk menata kembali masa depan.
Diiringi alat musik perkusi dan instrumen qasidah, setiap lantunan menghadirkan suasana agamis yang kental. Di tempat yang selama ini dikenal sebagai ruang pembinaan dan pembatasan kebebasan, tumbuh pula harapan bahwa setiap manusia masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Kegiatan tersebut berada dalam pembinaan dan pengawasan Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat) Lapas Kelas IIA Bulukumba, Andi Fadli.
Dalam arahannya kepada warga binaan, Andi Fadli menegaskan bahwa qasidah bukan hanya persoalan kemampuan bernyanyi atau memainkan alat musik. Lebih dari itu, qasidah dapat menjadi media pembinaan jiwa, sarana introspeksi, dan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Qasidah yang saudara lantunkan bukan sekadar nada dan kata-kata. Di dalamnya terdapat zikir, doa, permohonan ampun, serta harapan tulus dari hati. Jadikan setiap lantunan sebagai jalan perubahan, bukan hanya di lisan, tetapi juga diwujudkan dalam sikap dan perbuatan sehari-hari,” ujar Andi Fadli.
Pesan tersebut disambut dengan kesungguhan oleh para warga binaan. Lantunan qasidah pun seolah menjadi bahasa hati—mengajak untuk mengingat kesalahan masa lalu, memperbanyak istighfar, serta membangun keyakinan bahwa pintu taubat dan perubahan selalu terbuka bagi siapa pun yang sungguh-sungguh ingin kembali ke jalan yang lebih baik.
Bukan Sekadar Tempat Menjalani Hukuman
Pembinaan qasidah menjadi salah satu bagian dari program pembinaan kepribadian yang dijalankan Subseksi Bimkemaswat Lapas Kelas IIA Bulukumba. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu membangun ketenangan jiwa, kedisiplinan, kekompakan, kepercayaan diri, serta nilai-nilai spiritual warga binaan.
Di tengah keterbatasan kebebasan, mereka diberi ruang untuk belajar, berkarya, berlatih, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Setiap pukulan rebana dan setiap syair yang dilantunkan membawa pesan sederhana namun mendalam: masa lalu tidak harus menjadi akhir dari segalanya.
Lapas, melalui proses pembinaan yang dijalankan, tidak semata-mata menjadi tempat seseorang menjalani pidana. Di dalamnya juga terdapat proses pembelajaran, pembentukan karakter, dan upaya mempersiapkan warga binaan agar memiliki bekal moral serta mental ketika kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Bulukumba, H. Mansur, S.Sos., M.Si., melalui Kasubsi Bimkemaswat, menyampaikan apresiasi terhadap semangat warga binaan yang terus mengikuti kegiatan pembinaan keagamaan.
Pembinaan kerohanian, menurutnya, perlu terus diperkuat karena perubahan perilaku tidak hanya membutuhkan aturan dan kedisiplinan, tetapi juga menyentuh kesadaran hati.
“Kami ingin Lapas menjadi tempat pembinaan dan perubahan. Ketika seseorang menyadari kesalahannya, memiliki niat untuk memperbaiki diri, serta membangun harapan baru, maka proses reintegrasi sosial memiliki landasan yang lebih kuat. Semoga suasana agamis seperti ini membawa berkah dan menjadi cahaya dalam perjalanan hidup warga binaan,” harap Andi Fadli.
Dari Balik Jeruji, Cahaya Harapan Tetap Menyala
Pemandangan warga binaan dengan busana putih yang melantunkan qasidah menjadi gambaran bahwa pembinaan dapat hadir dalam berbagai bentuk. Seni yang berpadu dengan nilai keagamaan mampu menjadi sarana positif untuk menumbuhkan kedamaian, kebersamaan, dan semangat perubahan.
Kegiatan qasidah bukan sekadar mengisi waktu luang. Di balik setiap latihan terdapat proses kedisiplinan, kerja sama, pengendalian diri, dan penanaman nilai moral.
Bagi warga binaan, pembinaan seperti ini diharapkan dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi kehidupan setelah masa pidana berakhir. Mereka tidak hanya diharapkan kembali ke masyarakat sebagai orang yang telah menjalani hukuman, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki semangat untuk menata kehidupan baru.
Dari ruang pembinaan Lapas Kelas IIA Bulukumba, qasidah terus mengalun.
Lantunannya membawa pesan dakwah, pesannya mengajak untuk bertobat, dan pertobatan selalu membuka jalan bagi harapan.
Karena di balik setiap manusia yang pernah salah, masih ada kesempatan untuk berubah. Dan di balik jeruji besi, cahaya pembinaan tetap dapat menyala.
Dokumentasi: Kasubsi Bimkemaswat Lapas Kelas IIA Bulukumba, Andi Fadli, bersama rombongan qasidah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) tampil dengan busana muslim serba putih dalam kegiatan latihan qasidah di ruang kegiatan pembinaan Lapas Kelas IIA Bulukumba. Suasana agamis semakin terasa dengan lantunan syair dakwah serta iringan alat musik qasidah.
Penulis: Abdul Rauf
Media Bintang Bayangkara Indonesia

