Aliansi Adat Amabom, Brigade Bogani: Kebhinekaan di Tanah Totabuan, Empat Etnis, Satu Hati, Satu Negeri

Share

BOLMONG, Binkari — Di tengah keberagaman Tanah Totabuan, semangat kemerdekaan kembali menemukan maknanya: berbeda dalam adat dan budaya, tetapi tetap berdiri dalam satu barisan sebagai anak bangsa.

Pesan persatuan itu mengemuka dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa, 18 Agustus 2026.

Ketua Aliansi Adat AMABOM, Mato Buntuan, menegaskan bahwa Tanah Totabuan merupakan ruang hidup bersama bagi empat etnis yang selama ini berdampingan dalam suasana saling menghormati dan mendukung.

“Ada empat etnis yang hidup berdampingan di Tanah Totabuan. Kami saling menghargai dan mensuport satu sama lain,” ujar Mato Buntuan.

Pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan seremonial dalam momentum kemerdekaan. Lebih dari itu, pesan tersebut menjadi penegasan bahwa keberagaman tidak semestinya dijadikan alasan untuk menciptakan jarak, apalagi menjadi bahan bakar perpecahan.

Sebab, perbedaan adat bukan tembok untuk memisahkan, melainkan jembatan untuk saling mengenal dan menghormati.

Tanah Totabuan telah menunjukkan bahwa persaudaraan dapat tumbuh di tengah perbedaan. Ketika setiap etnis mampu menghargai identitas satu sama lain, maka keberagaman justru berubah menjadi kekuatan yang menjaga ketenteraman masyarakat.

Jangan Biarkan Perbedaan Menjadi Bara

Pesan serupa disampaikan Ketua Brigade BOGANI, Sutrisno Pasi, di Mopuya Utara, Kecamatan Dumoga Tenggara, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Dalam momentum HUT ke-81 RI, Sutrisno mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan demi terciptanya keamanan serta kenyamanan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Di HUT RI ini kita jaga persatuan dan kesatuan demi keamanan, kenyamanan hidup bermasyarakat,” ujarnya.

Seruan tersebut menjadi penting di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang adat, budaya, dan etnis. Persatuan tidak cukup hanya diucapkan ketika upacara dan perayaan kemerdekaan, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Karena kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera merah putih.

Kemerdekaan juga tentang keberanian menyingkirkan ego, merawat persaudaraan, dan menolak segala bentuk perpecahan.

Merah putih tidak pernah bertanya dari etnis mana seseorang berasal.

Merah putih tidak pernah meminta seseorang meninggalkan adat dan budayanya.

Merah putih hanya mengajarkan satu hal yaitu berbeda boleh. Terpisah jangan.

Di Tanah Totabuan, empat etnis dapat hidup berdampingan, saling menghormati dan saling menopang. Itulah wajah Indonesia yang sesungguhnya Indonesia yang tidak dibangun dari keseragaman, tetapi dari keberanian untuk hidup bersama dalam perbedaan.

HUT ke-81 RI akhirnya bukan sekadar angka yang bertambah dalam usia Republik.

Ia adalah cermin untuk bertanya kepada diri sendiri: masihkah kita mampu menjaga persatuan yang diwariskan para pejuang?

Sebab ketika adat dihormati, keberagaman dirawat, keamanan dijaga, dan persaudaraan ditempatkan di atas kepentingan kelompok, maka Tanah Totabuan bukan hanya menjadi tempat tinggal.

Ia menjadi rumah bersama, tempat empat etnis boleh berbeda, tetapi satu hati ketika Merah Putih berkibar.

Imran Paputungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *