
SARAWAK, MALAYSIA, Binkari – Di tanah rantau yang jauh dari kampung halaman, para pekerja migran Indonesia menukar tenaga dengan harapan. Mereka memeras keringat di bawah terik matahari perkebunan demi masa depan keluarga yang ditinggalkan. Namun, harapan itu kini berubah menjadi luka setelah uang hasil kerja keras mereka diduga dibawa kabur oleh sepasang suami istri melalui modus investasi bodong.
Komunitas pekerja migran di Sarawak diguncang kabar memilukan. Pasangan berinisial IR dan suaminya diduga melarikan dana milik rekan-rekan sesama pekerja dengan nilai fantastis mencapai RM300.000, atau lebih dari Rp1 miliar.
Bukan perampok bersenjata yang merampas uang itu. Bukan pula pencuri yang menyelinap di malam hari. Uang tersebut justru berpindah tangan melalui pintu yang paling rapuh: kepercayaan.
Dengan janji keuntungan berlipat dalam waktu singkat, pelaku menawarkan investasi dan arisan yang dibungkus manis bak madu. Setiap setoran dijanjikan keuntungan besar hanya dalam hitungan hari. Bahkan, emas murni dijadikan umpan untuk menarik korban agar semakin yakin.
“Setor 4.300 dapat 6.000, setor 5.300 dapat 7.600. Khusus tanggal 12 gratis emas 1 gram.”
Kalimat sederhana itu menjadi jaring yang menjerat puluhan pekerja. Banyak di antara mereka menyerahkan tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun, berharap memperoleh tambahan rezeki. Namun yang datang bukan keuntungan, melainkan kehilangan.
Ketika dana telah terkumpul hingga ratusan ribu ringgit, pasangan tersebut mendadak menghilang. Pada Minggu, 14 Juni 2026, keduanya dilaporkan meninggalkan lingkungan kerja mereka dan memutus seluruh komunikasi.
Sejak saat itu, telepon tak lagi aktif. Pesan tak pernah dibalas. Janji manis yang dahulu berhamburan berubah menjadi sunyi yang menyakitkan.
Bagi para korban, yang hilang bukan sekadar uang. Di dalam setiap ringgit terdapat cerita tentang lembur panjang, tangan yang kasar karena bekerja, serta mimpi anak-anak yang ingin sekolah lebih tinggi. Ada harapan yang dibangun sedikit demi sedikit, lalu runtuh dalam sekejap.
Kini para korban mendesak aparat penegak hukum di Malaysia dan Indonesia untuk bergerak cepat melakukan pelacakan terhadap para pelaku. Mereka berharap keadilan dapat ditegakkan dan dana yang hilang masih bisa diselamatkan.
Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa investasi dengan keuntungan tidak masuk akal sering kali berakhir sebagai jebakan. Ketika keuntungan dijanjikan terlalu mudah, kewaspadaan harus menjadi benteng pertama.
Sebab dalam banyak kasus, yang dicuri bukan hanya uang, melainkan juga kepercayaan, persaudaraan, dan masa depan orang-orang kecil yang bekerja keras demi kehidupan yang lebih baik.
⭐️

