Bupati Sangihe Michael Thungari Jiwa Petarung, Sejarah, Bangun GOR ‘Membara’, Gelar Tinju Skala Nasional

Share

SANGIHE, Sulawesi Utara, Binkari – Langkah tidak pernah lahir dari keraguan. Di tangan Bupati Sangihe, Michael Thungari, pembangunan bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan pertarungan gagasan yang menuntut keberanian. Di tengah tekanan efisiensi anggaran dan keterbatasan daerah, ia memilih maju bukan menepi.

Sejarah baru mulai ditulis. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, Bupati Thungari menggagas lanjutan pembangunan GOR yang digelorakan dengan semangat “Membara” sebuah simbol, bukan hanya bangunan. Arena ini dirancang menjadi pusat denyut olahraga, sekaligus panggung bagi lahirnya petarung-petarung muda dari tanah perbatasan.

Tak berhenti pada infrastruktur, langkah berikutnya lebih berani: menggelar pertandingan tinju skala nasional di tanah Tampungang Lawo (Sangihe). Sebuah keputusan yang tidak populis bagi sebagian pihak, namun sarat pesan bahwa daerah tidak boleh selamanya menjadi penonton dalam peta olahraga nasional.

“Ini bukan sekadar event, ini pernyataan sikap,” tegas Thungari dalam pernyataannya saat penutupan kejuaraan Tinju Piala Bupati Sangihe 2026. Baginya, tinju bukan hanya olahraga keras, tetapi cermin mentalitas disiplin, daya tahan, dan keberanian menghadapi tekanan. Nilai-nilai yang ia yakini harus tumbuh dalam karakter generasi muda Sangihe.

Di balik langkah ini, kritik tak terhindarkan. Ada yang mempersoalkan prioritas, ada pula yang meragukan dampaknya. Namun anak dari mantan anggota DPRD Sangihe, Ko Siong Thungari yaitu Michael, memilih menjawab dengan kerja, bukan retorika. Baginya, pembangunan yang berani selalu lahir dari keputusan yang tidak nyaman.

GOR “Membara” diproyeksikan menjadi titik balik. Bukan hanya ruang pertandingan, tetapi ruang pembuktian bahwa daerah kepulauan pun mampu berdiri sejajar, bahkan menantang dominasi pusat. Jika konsisten, bukan mustahil Sangihe akan melahirkan petinju nasional yang mengharumkan nama daerah di kancah yang lebih luas.

Di tengah segala keterbatasan, satu hal yang tak terbantahkan, keberanian mengambil risiko adalah fondasi perubahan. Dan di Sangihe, langkah itu sedang dipukul seperti lonceng ronde pertama keras, jelas, dan tak bisa diabaikan.

Asril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *