
SANGIHE, Binkari – Di atas ring yang panas dan penuh tekanan, Feyren Nabila tidak berdiri sendiri. Di balik setiap pukulan yang presisi dan langkah kaki yang terukur, ada kolaborasi sunyi namun kuat, ayah (Aldrien Padang) dan ibu (Feybe Patras) yang bukan sekadar orang tua, tetapi juga pelatih atau coach sejati yang membentuknya sejak nol.
Kemenangan Feyren meraih medali emas di Turnamen Tinju Piala Bupati Sangihe 2026 bukan cerita instan. Ini adalah akumulasi dari disiplin panjang, tempaan keras, dan pola didik keluarga yang menyatu antara kasih dan ketegasan. Dalam dunia tinju, kombinasi seperti ini jarang terjadi dan ketika terjadi, hasilnya sering kali melahirkan petarung dengan karakter baja.
Di wilayah Sangihe, tinju bukan sekadar olahraga. Ia adalah warisan. Sejak era ring sederhana yang dibangun dari papan seadanya, tradisi bertarung telah mengakar dalam kehidupan masyarakat pesisir dan perbatasan. Banyak petinju lahir dari keterbatasan, namun justru di situlah mental juara ditempa.
Feyren Nabila kelas 8 di SMP 2 Tahuna usia 13 tahun adalah refleksi dari sejarah, namun dengan warna baru. Jika dulu banyak atlet dibentuk oleh pelatih di sasana, Feyren tumbuh dari rumah yang menjelma menjadi ruang latihan. Ayah mengajarkan teknik dan keberanian, ibu menanamkan disiplin, fokus, dan ketahanan mental. Dua peran ini berpadu, membentuk fondasi yang sulit digoyahkan.

Pada partai final, Feyren tampil bukan hanya sebagai petinju, tetapi sebagai representasi dari proses panjang tersebut. Ia membaca lawan dengan cermat, menyerang dengan perhitungan, dan bertahan dengan ketenangan. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Semua terukur, buah dari latihan yang berulang tanpa kompromi.
Dominasi Feyren di ring menjadi penegasan bahwa pembinaan tidak harus selalu bergantung pada sistem besar. Ketika keluarga mengambil peran aktif, bahkan dari ruang sederhana sekalipun, lahir kekuatan yang autentik dan konsisten.
Turnamen Piala Bupati Sangihe sendiri terus menjadi panggung historis bagi lahirnya atlet-atlet tangguh. Dari generasi ke generasi, ajang ini mencatat perjalanan panjang olahraga tinju di daerah perbatasan. Dan kini, nama Feyren Nabila ditulis dengan tinta emas dalam bab terbaru sejarah di tanah Tampungang Lawo.

Namun lebih dari sekadar gelar juara, kemenangan ini membawa pesan yang lebih dalam, bahwa sinergi keluarga bisa menjadi fondasi terkuat dalam membangun atlet. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya dukungan struktural, Feyren justru membuktikan ketika rumah menjadi sasana, dan orang tua menjadi pelatih, tidak ada batas bagi prestasi.
Publik Sangihe kini tidak hanya melihat Feyren sebagai juara baru. Ia adalah simbol bahwa sejarah bisa dilanjutkan dengan cara berbeda, lebih personal, lebih kuat, dan lebih bermakna.
Langkahnya belum selesai. Tapi satu hal sudah pasti, dari ring kecil di Sangihe, gema kemenangan Feyren Nabila telah terdengar jauh melampaui batas pulau, menantang panggung yang lebih besar di masa yang akan datang.
Asril

