
KODIM Bulukumba, Binkari —Jum,at 06 februari 2026, Pagi itu, matahari baru saja menampakkan kekuatannya di ufuk timur Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Udara terasa hangat, sementara debu tipis perlahan beterbangan dari tanah yang sedang dikerjakan. Di sudut desa yang dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir bersejarah itu, suara cangkul, sekop, dan palu terdengar bersahutan.
Puluhan prajurit TNI bersama masyarakat terlihat sibuk bekerja. Mereka mengangkat material, meratakan tanah, dan menyelesaikan berbagai pekerjaan pembangunan yang menjadi bagian dari program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-127.
Namun ada satu hal yang membuat suasana pagi itu terasa berbeda. Hari itu adalah bulan suci Ramadhan.
Artinya, sejak terbit fajar para prajurit yang bekerja di lokasi tersebut menahan lapar dan dahaga. Meski demikian, semangat mereka tidak sedikit pun berkurang.
Dengan wajah yang dipenuhi keringat, para personel Satuan Tugas (Satgas) TMMD tetap bekerja tanpa mengenal lelah. Bagi mereka, tugas pembangunan desa adalah bagian dari pengabdian yang tidak mengenal waktu.

Sejak pagi hari, anggota Satgas TMMD sudah berada di berbagai titik pekerjaan di Desa Ara. Mereka melanjutkan pembangunan infrastruktur yang menjadi sasaran program TMMD tahun ini. Pekerjaan dilakukan secara bertahap dengan harapan seluruh target dapat rampung sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Di sela-sela pekerjaannya, seorang anggota Satgas TMMD mengaku bahwa bekerja di bulan Ramadhan justru memberikan semangat tersendiri bagi para prajurit.
“Puasa bukan halangan bagi kami untuk tetap bekerja. Justru di bulan Ramadhan ini kami merasa pengabdian yang dilakukan menjadi lebih bermakna. Yang penting masyarakat bisa merasakan manfaat dari pembangunan ini,” ujar salah satu prajurit Satgas TMMD.
Pemandangan di lokasi pembangunan itu bukan hanya tentang kerja keras para prajurit TNI. Di antara mereka, tampak pula sejumlah warga Desa Ara yang turut membantu pekerjaan.
Ada yang mengangkat batu, ada yang meratakan tanah, bahkan ada pula yang sekadar membantu menyiapkan kebutuhan para pekerja di lapangan. Semua dilakukan secara sukarela, tanpa diminta.

Bagi warga desa, kehadiran program TMMD bukan hanya membawa pembangunan fisik, tetapi juga menghadirkan semangat kebersamaan yang jarang mereka rasakan sebelumnya.
Seorang warga Desa Ara mengaku bangga dapat bekerja bersama para prajurit TNI di bulan Ramadhan.
“Kami sangat senang dengan adanya TMMD di desa ini. Walaupun bapak-bapak TNI sedang berpuasa, mereka tetap semangat membantu masyarakat. Karena itu kami juga merasa terpanggil untuk ikut bekerja bersama mereka,” ungkap seorang warga yang ikut bergotong royong.
Kebersamaan antara TNI dan masyarakat itulah yang menjadi ruh utama dari program TMMD. Program yang telah berjalan selama puluhan tahun ini memang dirancang untuk mempercepat pembangunan di daerah sekaligus memperkuat hubungan antara TNI dan rakyat.
Melalui TMMD, prajurit tidak hanya hadir sebagai penjaga kedaulatan negara, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang turut merasakan kehidupan di desa.
Di Desa Ara, program ini membawa harapan baru bagi masyarakat. Infrastruktur yang lebih baik diharapkan dapat membuka akses ekonomi, memperlancar aktivitas warga, serta mendorong kemajuan desa di masa depan.

Sementara bagi para prajurit Satgas TMMD Ke-127, setiap tetes keringat yang jatuh di tanah desa adalah simbol pengabdian kepada bangsa.
Terik matahari, rasa lelah, dan lapar yang harus ditahan hingga waktu berbuka tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti bekerja. Justru dari situlah semangat pengabdian mereka semakin terlihat.
Hari demi hari, pekerjaan terus dikejar. Target pembangunan menjadi prioritas agar seluruh sasaran dapat selesai tepat waktu dan segera dimanfaatkan oleh masyarakat.
Di sudut Kecamatan Bonto Bahari, Ramadhan tahun ini menjadi saksi bagaimana semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Prajurit TNI dan warga Desa Ara bersama-sama membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya dibangun dengan alat dan material, tetapi juga dengan kebersamaan dan semangat pengabdian.
Karena pada akhirnya, membangun desa bukan sekadar menyelesaikan proyek pembangunan—tetapi menjaga harapan masyarakat akan masa depan yang lebih baik.
Jumat, 6 Maret 2026. (Pendim)
Abdul Rauf Bulukumba Sulsel

