
MANADO⚡Binkari – Suasana Ramadan 1447 Hijriah di Markas Komando Polda Sulawesi Utara terasa semakin religius. Masjid Nurul Jihad yang berada di kompleks Mapolda menjadi pusat kegiatan ibadah bagi personel kepolisian dan masyarakat sekitar selama bulan suci ini.
Beragam kegiatan keagamaan digelar untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan anggota Polri. Salah satunya adalah ceramah agama yang rutin dilaksanakan usai Sholat Dzuhur dengan menghadirkan ustaz secara bergantian.
Pada Senin (23/2/2026), ceramah disampaikan oleh Ustad Barokah Zaenul Alam, SQ. Dalam tausiyahnya, ia mengupas tiga jenis hati dalam perspektif Islam, yakni Qolbun Mayyit (hati yang mati), Qolbun Maridh (hati yang sakit), dan Qolbun Salim (hati yang selamat/sehat).
Ia menjelaskan, hati yang mati bukan berarti detak jantungnya berhenti, melainkan fungsi spiritualnya yang telah sirna. Ciri-cirinya antara lain tidak mengenal Tuhannya, enggan beribadah, dan selalu mengikuti hawa nafsu.
Sementara hati yang sakit berada di antara hidup dan mati. Hati ini masih memiliki iman, namun terjangkit penyakit seperti riya (pamer), hasad (dengki), ujub (bangga diri), serta kecintaan berlebihan terhadap dunia.
Adapun hati yang selamat atau sehat adalah hati yang bersih dari syirik, sepenuhnya bergantung kepada Allah, serta dipenuhi keikhlasan dalam setiap amal perbuatan.
Selain ceramah, kegiatan Ramadan juga diisi dengan buka puasa bersama yang menjadi momentum kebersamaan antara pimpinan, personel, dan masyarakat dalam suasana sederhana namun penuh keberkahan.
Pada malam harinya, dilaksanakan Sholat Isya yang dilanjutkan dengan Sholat Tarawih dan Witir berjamaah secara rutin sepanjang Ramadan.
Kabid Humas Polda Sulawesi Utara Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tersebut bertujuan membentuk karakter anggota Polri yang lebih humanis dan religius.
“Dengan memperkuat spiritualitas, diharapkan pelayanan kepada masyarakat juga semakin baik,” singkatnya.
Sunny
