
MANADO, Binkari – Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kembali menegaskan bahwa nilai-nilai spiritual tidak hanya bersifat personal, tetapi juga memiliki dimensi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di Sulawesi Utara, Idul Fitri hadir bukan sekadar sebagai perayaan keagamaan, melainkan sebagai ruang konsolidasi sosial yang memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Silaturahmi yang terjalin antara jajaran Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) di bawah kepemimpinan Stevie Sumampow bersama Wakil Ketua Meyvo Rumengan, serta Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulut yang dipimpin Johnny Alexander Suak, menjadi cerminan nyata sinergi antara masyarakat dan pemerintah. Lebih dari itu, momen ini merepresentasikan arah kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, dalam membangun tata kelola daerah yang harmonis, stabil, dan berorientasi pada ketahanan sosial.
Gubernur Yulius Selvanus secara konsisten menekankan bahwa kondusivitas wilayah merupakan fondasi utama keberlanjutan pembangunan. Dalam perspektif tersebut, Idul Fitri dimaknai bukan hanya sebagai kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai momentum strategis untuk memperkuat kohesi sosial, merawat toleransi, serta meruntuhkan sekat-sekat perbedaan yang berpotensi memicu disintegrasi.
Harapan besar Gubernur tercermin pada penguatan sinergi antara FKDM dan Kesbangpol sebagai dua pilar penting dalam sistem deteksi dini dan pencegahan konflik sosial. FKDM, dengan jejaring masyarakatnya, memiliki keunggulan dalam membaca dinamika di akar rumput, sementara Kesbangpol berperan dalam merumuskan kebijakan berbasis data dan analisis. Integrasi keduanya menjadi instrumen efektif dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Seruan untuk memperkuat silaturahmi dalam momentum Idul Fitri juga sejalan dengan pendekatan kepemimpinan yang humanis. Silaturahmi tidak lagi sekadar tradisi, tetapi menjadi mekanisme sosial strategis untuk membangun kepercayaan publik, memperkuat komunikasi lintas kelompok, serta menjadi benteng terhadap hoaks, provokasi, dan polarisasi sosial di era digital.
Dalam konteks tersebut, ajakan untuk meningkatkan kewaspadaan dini harus dipahami sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas jangka panjang. Stabilitas tidak hanya dimaknai sebagai keamanan fisik, tetapi juga mencakup stabilitas sosial, politik, dan informasi di tengah arus disrupsi yang semakin kompleks.
Penguatan moderasi beragama yang turut menjadi bagian dari pertemuan ini juga menjadi elemen penting dalam pembangunan sosial Sulawesi Utara. Pendekatan moderasi yang inklusif dan berkeadilan diyakini mampu menjaga keseimbangan antara kebebasan berkeyakinan dan tanggung jawab dalam merawat harmoni sosial.
Nuansa saling memaafkan yang mengiringi Idul Fitri mencerminkan nilai rekonsiliasi sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Nilai ini selaras dengan upaya membangun pemerintahan yang responsif, inklusif, dan mampu merangkul seluruh elemen tanpa sekat.
Sebagai penutup, Idul Fitri 1447 Hijriah harus dimaknai sebagai momentum konsolidasi moral dan sosial dalam mendukung arah pembangunan daerah. Harapan Gubernur Yulius Selvanus jelas: Sulawesi Utara harus tetap menjadi daerah yang damai, rukun, dan solid dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.
Dengan memperkuat silaturahmi, meningkatkan kewaspadaan dini, serta menjaga sinergi antara pemerintah dan masyarakat, fondasi stabilitas daerah akan semakin kokoh. Dari sinilah pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat dapat terus diwujudkan secara nyata.
Sulut, 20 Maret 2026
Sunny

