
BULUKUMBA, Binkari — Suasana yang biasanya identik dengan keterbatasan, kini berubah menjadi lautan semangat dan kebersamaan. Dalam rangka memperingati Hari Bakti Pemasyarakatan (HBP) Ke-62, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bulukumba resmi membuka Pekan Olahraga yang melibatkan sinergi unik antara petugas dan warga binaan, Selasa (31/03), di Lapangan Blok Hunian.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, ia menjelma menjadi simbol kuat bahwa di balik tembok tinggi pemasyarakatan, harapan dan perubahan terus tumbuh.
Pembukaan berlangsung khidmat, diawali dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menggema penuh rasa nasionalisme. Hadir langsung dalam kegiatan tersebut, Plt Kalapas Bulukumba, Ashari, bersama jajaran pejabat struktural, staf, peserta magang, hingga ratusan warga binaan yang tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara.
Ketua Panitia, Yadi Husain Tanassy, dalam laporannya menegaskan bahwa Pekan Olahraga ini merupakan bagian dari rangkaian besar peringatan HBP Ke-62 yang tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga pembinaan mental dan fisik.
“Beragam cabang olahraga dipertandingkan, mulai dari bola voli, tenis meja, sepak takraw hingga bulutangkis. Ini menjadi ruang interaksi positif antara pegawai dan warga binaan, sekaligus sarana menjaga kebugaran serta mempererat tali silaturahmi,” jelasnya.
Komitmen terhadap sportivitas juga ditunjukkan melalui pembacaan janji wasit dan atlet, sebagai simbol integritas dalam setiap pertandingan yang akan berlangsung.

Dalam sambutannya, Ashari menekankan bahwa esensi kegiatan ini jauh lebih dalam daripada sekadar menang atau kalah. Ia menyebut olahraga sebagai media pembinaan karakter yang efektif di lingkungan pemasyarakatan.
“Ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi tentang membangun kepribadian, menumbuhkan semangat kebersamaan, serta menjaga kesehatan fisik dan mental. Di sinilah nilai-nilai pembinaan itu tumbuh,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan seluruh warga binaan untuk tetap menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Sportivitas, menurutnya, menjadi kunci utama dalam menciptakan suasana yang kondusif.
Sebagai simbol dimulainya rangkaian perlombaan, dilakukan penyerahan perlengkapan pertandingan secara simbolis dari Plt Kalapas kepada Ketua Panitia. Momen ini disambut meriah dengan defile peserta yang menampilkan barisan penuh semangat dari tiap blok hunian, pegawai, hingga peserta magang.
Pekan Olahraga ini menjadi bukti nyata bahwa proses pembinaan di Lapas bukan sekadar menjalani masa hukuman, melainkan perjalanan membentuk kembali jati diri. Dari lapangan sederhana di balik jeruji, terpancar semangat juang, kebersamaan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Di sinilah, olahraga menjadi bahasa universal—menyatukan, membina, dan menginspirasi.
Abdul Rauf Bulukumba Sulselbar

