
KOTAMOBAGU, Binkari – Ada suara yang tak pernah benar-benar padam. Ia mengalir dari akar-akar pohon tua, bergaung di pegunungan, dan hidup dalam ingatan para leluhur. Suara itu kembali menggema ketika Aliansi Masyarakat Adat Bolaang Mongondow Raya (AMABOM Raya) mengangkat kembali pembahasan mengenai hak-hak masyarakat adat yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan jati diri Bolaang Mongondow Raya.
Dalam pertemuan tersebut, Ketua Umum AMABOM Raya, Drs. H. Z. A. Jemmy Lantong, S.H., bersama Dr. Muliadi Mokodompit, S.E., S.H., M.Si., Rektor IAI Kotamobagu, membahas pentingnya penguatan pengakuan, perlindungan, dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat adat di wilayah Bolaang Mongondow Raya.
Diskusi itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ia menjadi ruang untuk mengingatkan bahwa adat bukan peninggalan masa lalu yang layak dipajang sebagai cerita, melainkan napas yang masih menghidupi masyarakat hingga hari ini. Hak atas tanah, identitas budaya, nilai-nilai leluhur, serta kearifan lokal dinilai sebagai fondasi yang harus dijaga bersama.
“Bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung-gedung tinggi, tetapi juga menghormati akar sejarah yang menopang peradabannya,” menjadi semangat yang mewarnai pembahasan tersebut.
AMABOM Raya menegaskan bahwa perjuangan masyarakat adat bukanlah bentuk perlawanan terhadap pembangunan, melainkan upaya agar pembangunan berjalan selaras dengan penghormatan terhadap hak-hak konstitusional masyarakat adat serta nilai-nilai budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Kehadiran kalangan akademisi dalam diskusi ini juga diharapkan dapat memperkuat kajian ilmiah dan mendorong lahirnya gagasan-gagasan yang berpihak pada pelestarian adat, budaya, dan kepastian hukum bagi masyarakat adat Bolaang Mongondow Raya.
Di tengah arus modernisasi yang terus melaju, pesan yang lahir dari pertemuan itu sederhana namun bermakna: jangan biarkan kemajuan menjadi alasan untuk melupakan akar. Sebab, ketika akar tercerabut, pohon sebesar apa pun akan kehilangan kekuatannya menghadapi zaman.
Imran Paputungan

