
SANGIHE, Binkari – Gempa yang mengguncang wilayah perbatasan Marore, Kawio, dan Matutuang bukan hanya menggetarkan tanah yang dipijak masyarakat, tetapi juga mengguncang hati setiap insan yang merasakan rapuhnya kehidupan di ujung negeri. Di tengah ketakutan yang menyelimuti malam dan kecemasan yang menyusup ke setiap rumah, hadir secercah cahaya dari mereka yang memilih mengabdi tanpa banyak kata.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi salah satu garda terdepan yang tidak meninggalkan rakyatnya menghadapi bencana sendirian. Di pulau-pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negeri tetangga, para tenaga kesehatan bekerja melampaui batas tugas dan kewajiban. Mereka datang bukan sekadar membawa obat-obatan, tetapi juga membawa ketenangan, harapan, dan sentuhan kemanusiaan.
Kadis Kesehatan, dr. Handry Pasandaran, M.E. menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para tenaga kesehatan yang tetap setia melayani masyarakat di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.

Menurutnya, pelayanan yang diberikan bukan hanya profesional, tetapi juga lahir dari ketulusan hati dan kasih yang nyata.”Di saat bumi berguncang, mereka tetap berdiri teguh. Di saat masyarakat diliputi ketakutan, mereka hadir memberikan rasa aman. Inilah wajah pelayanan yang sesungguhnya, pelayanan yang berangkat dari hati,” ungkap df.Handry Pasandan.
Di Marore, Kawio, dan Matutuang, para petugas kesehatan menyusuri wilayah-wilayah terdampak, memeriksa kondisi warga, memberikan pelayanan medis, serta memastikan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil mendapatkan perhatian yang layak. Mereka bekerja dalam keterbatasan, namun tidak membatasi kepedulian.
Bencana memang meninggalkan luka.
Namun di balik setiap retakan tanah dan kecemasan yang membekas, terselip kisah-kisah kemanusiaan yang menghangatkan jiwa. Kisah tentang pengabdian yang tidak mencari pujian, tentang pelayanan yang tidak menunggu sorotan, dan tentang kasih yang tetap hidup di tengah ancaman alam.

Perbatasan negeri ini mungkin jauh dari pusat kekuasaan, tetapi semangat para tenaga kesehatan membuktikan bahwa negara tetap hadir. Bukan melalui pidato panjang atau janji-janji megah, melainkan melalui langkah-langkah sederhana yang penuh ketulusan.
Di tengah gemuruh gempa yang mengguncang bumi, suara kemanusiaan justru terdengar lebih nyaring.
Dan dari Marore, Kawio, serta Matutuang, rakyat menyaksikan bahwa ketika bencana datang menguji, kasih dan pengabdian selalu menemukan jalannya untuk menyembuhkan.
Asril

