
SULUT⚡Binkari — Aktivis perempuan Sulawesi Utara, Bunda Yuni Srikandi, menyayangkan pemberitaan media yang dinilainya tidak berimbang terkait aktivitas tambang ilegal di wilayah Ratatotok.
Ia menilai sorotan media terlalu terfokus pada satu nama pengusaha, yakni Deker Mamusung (DM), seolah-olah menjadi satu-satunya aktor utama dalam praktik tambang ilegal di wilayah tersebut.
“Faktanya, pengusaha tambang ilegal di Ratatotok itu bukan satu atau dua orang, tapi jumlahnya ratusan. Kalau pemberitaan hanya mentok pada satu nama, ini jelas tidak adil dan menyesatkan opini publik,” tegas Bunda Yuni, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, framing pemberitaan yang berlebihan terhadap DM menciptakan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah “raja tambang ilegal”, termasuk dalam isu penimbunan BBM solar dan sianida (CN).
Padahal, kata dia, di lapangan masih banyak pengusaha lain yang justru diduga menimbun solar dan CN dalam jumlah jauh lebih besar. “Ini sangat ironis. Seakan-akan media sengaja mencari-cari kesalahan satu oknum agar semua mata publik tertuju kepadanya, sementara pelaku lain yang jumlahnya jauh lebih banyak justru luput dari sorotan,” ujarnya.
Bunda Yuni juga mengungkapkan bahwa dalam praktiknya, hampir seluruh pengusaha tambang ilegal di kawasan tersebut menggunakan solar dan CN sebagai kebutuhan utama dalam proses pengolahan batu emas menjadi emas murni.
“Kalau mau jujur dan adil, maka bongkar semua. Jangan hanya satu atau dua nama saja. Jika penegakan hukum dan pemberitaan tidak menyentuh akar persoalan secara menyeluruh, itu namanya naif,” pungkas aktivis yang dikenal vokal memperjuangkan hak-hak rakyat Sulawesi Utara tersebut. (Sunny)
