
MANADO, Binkari — Duka itu datang tanpa aba-aba. Sunyi, namun menghantam keras. Keluarga besar LPK-RI Sulawesi Utara kini berdiri dalam kehilangan yang nyata, setelah Maikel Lantu yang akrab disapa Pato Anoa berpulang meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus waktu.
Bukan sekadar kepergian seorang anggota. Ini adalah gugurnya satu sosok penggerak yang bekerja dalam diam, memberi tanpa pamrih, dan hadir tanpa banyak bicara.
Ketua LPK-RI Sulut, Stevie Sumampow, tidak menutupi kesedihannya. Ucapan duka yang ia sampaikan bukan formalitas, melainkan refleksi dari kehilangan yang dalam.
“Pato bukan sekadar anggota. Dia saudara. Selalu ada, selalu membantu. Tanpa hitung-hitungan. Kami kehilangan lebih dari yang bisa diucapkan,” ujarnya, dengan nada yang tak lagi bisa disembunyikan.
Pato Anoa bukan nama asing di lapangan. Ia dikenal aktif mendampingi masyarakat, khususnya dalam persoalan kendaraan dengan pihak pembiayaan di Manado. Di tengah kerumitan urusan yang seringkali memojokkan rakyat kecil, ia berdiri di sisi yang benar tanpa sorot kamera, tanpa ambisi panggung.
Kepergiannya mengguncang. Bukan hanya di Manado, tetapi juga hingga Remboken, tanah yang membesarkannya. Banyak yang terdiam. Banyak yang tak percaya. Sosok yang kemarin masih menyapa, kini tinggal cerita.
Namun, Pato tidak pernah hidup untuk sekadar dikenal. Ia hidup untuk memberi arti.
Ia disegani, tapi tidak berjarak. Dihormati, tapi tetap membumi. Pengaruh yang dimilikinya tidak pernah berubah menjadi alat tekanan justru menjadi jembatan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan.
Nilai hidupnya sederhana, tapi kuat yaitu Sitou Timou Tumou Tou manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Bagi Pato, itu bukan slogan. Itu jalan hidup.
Para senior mengenangnya sebagai pribadi santun, tahu tempat, dan menjaga etika. Sementara generasi muda melihatnya sebagai pelindung tempat bersandar, tempat bertanya, bahkan tempat mengadu ketika keadaan tak berpihak.
Kini, suara itu berhenti. Langkah itu terhenti. Namun tidak dengan jejaknya.
Media sosial dipenuhi ucapan duka, tapi lebih dari itu dipenuhi kesaksian. Tentang kebaikan yang nyata. Tentang ketulusan yang tidak dibuat-buat. Tentang seseorang yang hadir bukan karena kepentingan, tapi karena hati.
Pato Anoa telah pergi. Tapi nilai yang ia tinggalkan menolak untuk ikut mati.
Selamat jalan, Maikel “Pato Anoa” Lantu.
Namamu akan terus hidup bukan di batu nisan, tapi di ingatan mereka yang pernah merasakan kebaikanmu.
Sunny

