
Bulukumba, Binkari – Siang itu seharusnya berjalan seperti biasa di sebuah lorong kecil di Jalan Jendral Ahmad Yani, Kelurahan Caile, Kecamatan Ujung Bulu. Aktivitas warga mengalir tenang, suara percakapan ringan dan langkah kaki bersahutan di sekitar rumah kos sederhana yang berdiri di sudut jalan.
Namun, Senin, 27 April 2026, sekitar pukul 14.00 WITA, suasana itu berubah dalam sekejap.
Sebuah pertengkaran pecah. Awalnya hanya suara tinggi di dalam kamar kos tak ada yang menyangka bahwa percakapan itu akan berakhir dengan tragedi yang merenggut nyawa.
Di ruangan itulah, Ical (38) datang menemui mantan istrinya, Nurfatmawati (23). Hubungan yang telah berakhir rupanya belum benar-benar selesai. Ada luka lama yang belum sembuh, ada emosi yang belum reda.
Ketika kabar tentang rencana pernikahan baru Nurfatmawati mencuat, percakapan berubah menjadi cekcok. Nada suara meninggi. Kata-kata saling melukai. Ketegangan mengisi ruang sempit itu.
Tak lama berselang, H. Herman (49), ayah dari Nurfatmawati, datang. Ia mungkin berniat melerai, atau sekadar memastikan keadaan anaknya baik-baik saja. Namun kehadirannya justru menambah bara dalam konflik yang sudah memanas.
Apa yang terjadi kemudian berlangsung cepat terlalu cepat untuk dicegah.
Dalam kondisi emosi yang memuncak, Ical mencabut badik. Sebilah senjata tradisional yang dalam sekejap berubah menjadi alat mematikan. Satu tikaman menghantam perut korban. Luka yang ditinggalkan bukan hanya dalam, tetapi juga fatal.
Warga sekitar mulai berdatangan setelah mendengar keributan. Namun saat pintu terbuka, yang terlihat adalah tubuh H. Herman yang sudah tergeletak, bersimbah darah.
Upaya penyelamatan dilakukan secepat mungkin. Korban dilarikan menuju RSUD Bulukumba. Harapan masih ada di sepanjang perjalanan. Namun takdir berkata lain nyawa itu tak tertolong. Di sisi lain, pelaku melarikan diri.

Negara Hadir di Tengah Duka
Tak butuh waktu lama bagi aparat kepolisian untuk bergerak. Informasi yang masuk langsung ditindaklanjuti. Kapolsek Ujung Bulu, IPTU Rudi Adri Purwanto, SH, bersama Kanit Reskrim IPDA Kamaruddin, S.Sos, memimpin tim gabungan dari Polres Bulukumba dan Polsek Ujung Bulu.
Perburuan dilakukan dengan cepat, terukur, dan tanpa celah.
Hanya dalam waktu sekitar dua jam setelah kejadian, pelaku berhasil diamankan. Sebuah respons yang menunjukkan bahwa negara tidak tinggal diam ketika rasa aman masyarakat terusik.
Di Balik Angka dan Fakta
Di atas kertas, ini adalah kasus penganiayaan berat yang berujung kematian. Ada pelaku, ada korban, ada saksi, dan ada proses hukum yang akan berjalan.
Namun di balik itu semua, ada cerita yang lebih dalam tentang relasi keluarga yang retak, tentang emosi yang tak terkendali, dan tentang keputusan sesaat yang membawa konsekuensi seumur hidup.
Seorang ayah kehilangan nyawa. Seorang anak kehilangan orang tua. Dan seorang pria kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.
Pelajaran yang Tersisa
Tragedi ini meninggalkan luka yang tidak hanya dirasakan oleh keluarga korban, tetapi juga oleh masyarakat sekitar. Sebuah pengingat bahwa konflik, sekecil apa pun, bisa berubah menjadi bencana jika tidak diselesaikan dengan kepala dingin.
Di tengah duka itu, harapan tetap ada bahwa kejadian serupa tidak terulang kembali. Bahwa setiap persoalan bisa diselesaikan tanpa kekerasan. kemanusiaan harus selalu menjadi pilihan utama.
Abdul Rauf Bulukumba Sulselbar

