
SANGIHE, Sulawesi Utara, Binkari — Ring panas, tensi tinggi, dan gengsi yang dipertaruhkan. Di tengah riuh sorak penonton, dua nama mencuat dengan satu pesan tegas: juara lahir dari mental baja dan karakter petarung. Maverick Lahamendu dan Queenly Oleng menuntaskan misi mereka dengan satu kata, medali emas.
Petinju cilik kelas 4 SDN 2 Tahuna, Maverick tampil garang sejak awal. Pukulannya bertenaga, ritmenya terjaga, dan langkahnya disiplin. Ia mengendalikan pertarungan dengan kecerdasan dan keberanian, memaksa lawan bermain di bawah tekanannya. Setiap ronde menjadi panggung dominasi bukan sekadar menang, tetapi menegaskan kelas.

Di sisi lain, Queenly Oleng kelas 4 di SLH itu, menghadirkan ketangguhan yang tak kalah menggigit. Di balik ketenangan wajahnya, tersimpan determinasi yang tak bisa diremehkan. Ia bertarung dengan presisi, sabar membaca celah, lalu menghantam di momen yang tepat. Kombinasi teknik dan mentalitasnya menjadikannya sulit disentuh dan akhirnya tak terbendung menuju podium tertinggi.
Ajang Tinju Piala Bupati Sangihe 2026 bukan sekadar kompetisi. Ini adalah arena pembuktian siapa yang benar-benar siap. Banyak yang datang dengan ambisi, namun hanya segelintir yang mampu menjawab tekanan dengan kemenangan. Maverick dan Queenly menjawabnya dengan cara paling akurat di atas ring.
Asuhan coach atau pelatih Arjuna Stirman, Makahanap Marson, Jemmy Hariawang. Kedua petinju kelas Mini Junior Boys (10-12 Tahun) 24 Kg dan Kelas Mini Junior Girls 26 Kg ini menunjukkan bahwa kemenangan bukan hadiah, melainkan hasil dari disiplin, kerja keras, dan keberanian menantang batas diri. Mereka tidak hanya mengangkat medali emas, tetapi juga mengangkat marwah tinju daerah ke level yang lebih tinggi.
Dari Sangihe, dua petarung ini telah mengirimkan sinyal keras ke luar bahwa ada kualitas, ada masa depan, dan ada semangat juang yang tak bisa dipatahkan. Jalan masih panjang.

Satu hal pasti Maverick Lahamendu dan Queenly Oleng telah menancapkan nama mereka sebagai simbol kekuatan baru di dunia tinju dari tanah perbatasan, ‘Sangihe ikekendage, mang sunaung’ (Sangihe tercinta, selalu di hati).
Di bawah naungan Sasana ERM Boxing Camp, ring telah menjadi saksi. Dan sejarah mulai mencatat, dunia mendengar, Maverick dan Queenly merupakan putra putri Sangihe sebagai generasi tinju, jiwa kesatria, petarung sejati.
Asril

