
BANTAENG, Sulsel⚡Binkari – Kasus kematian tragis yang menimpa almarhum Aipda Taufik, anggota Sat Intelkam Polres Bantaeng, kini memasuki babak paling krusial dan menyita perhatian publik luas.
Setelah ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di sebuah gudang dekat kediamannya pada 25 Maret 2026 lalu, misteri di balik kematian tersebut tak kunjung reda. Kecurigaan dan tanda tanya besar dari pihak keluarga akhirnya mendorong dilakukannya penyelidikan lebih mendalam.
Puncaknya, pada Selasa (14/4/2026), Polres Bantaeng bersama Tim Kedokteran Kepolisian (Dokpol) Biddokkes Polda Sulawesi Selatan melakukan langkah tegas dengan menggelar ekshumasi atau penggalian makam jenazah almarhum.
Suasana haru bercampur tegang menyelimuti lokasi. Isak tangis keluarga pecah saat makam dibongkar, sementara aparat kepolisian berjaga ketat dengan garis polisi yang membatasi area, menandakan betapa seriusnya proses ini.
Kapolres Bantaeng, AKBP Nur Prasetyantoro Wira Utomo, turun langsung mengawal jalannya proses. Ia menegaskan, langkah ini merupakan bentuk komitmen untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian anggotanya.
“Ini adalah upaya untuk memastikan kebenaran. Kami ingin semuanya terang benderang, tanpa ada yang ditutupi,” tegasnya.
Di sisi lain, Kasat Reskrim Polres Bantaeng, AKP Gunawang Amin, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam spekulasi liar yang dapat memperkeruh situasi.
“Percayakan pada proses. Ini ditangani oleh tim ahli, dan hasilnya nanti akan disampaikan secara resmi,” ujarnya.
Sementara itu, tim dokter forensik dari Biddokkes Polda Sulsel yang dipimpin dr. Deni mengungkapkan bahwa hasil otopsi tidak bisa didapat secara instan. Sejumlah sampel penting telah diamankan dan akan diperiksa lebih lanjut di laboratorium di Makassar.
“Estimasi hasil sekitar satu bulan. Kami bekerja berdasarkan ilmiah,” singkatnya.
Proses ekshumasi yang berlangsung sekitar dua jam tersebut berjalan lancar di bawah pengamanan ketat.
Bang Jul

